 
ketika akhir-akhir ini insting saya sebagai " Manusia Sastra" muncul kembali saya sadar bahwa saya ternyata tidak bisa lepas dari dunia ini, dunia yang secara lahiriah telah membungkus rapat setiap tulang dan persendian saya, dunia yang betul-betul nyata hadirnya dan bukan sekedar justifikasi bahwa kenyataannya saya pernah kuliah dan mencemplungkan diri ke Fakultas sastra-sebuah pilihan emosional ketika itu-.
saya sebenarnya bersyukur bahwa sekian tahun dengan sekian juta kilometer perjalanan hidup, saya tidak kehilangan dunia itu walaupun dunia saya sekarang sangat jauh dari idealisme pena. sebuah dunia dengan latar belakang "besi" dengan orang-orang yang saya pikir mungkin telah memandulkan otak kanannya.http://www.wikipedia.net/ |