Segala yang kudengar, kurasa, dan kulihat ........
Heru Hastowo
Allahumma inni As-alukaa ridhaaka wal jannah ...
Afiliasi
Memaafkan ?
Saturday, January 27, 2007
Dalam agenda hidup saya, kata ini lama sekali tak pernah ada. Kala pertama saya hendak memaafkan dengan sungguh- sungguh, susahnya luar biasa.
Ada saja yang menghalangi saya berani melakukan tindakan yang mudah diucapkan dan sulit dilakukan itu, terutama untuk mereka yang pernah menyakiti hidup saya, yang menggosipkan saya bahwa saya tukang gosip hanya karena saya mengucapkan sesuatu dari mulut, sementara mereka yang menggosipkan saya membicarakan orang di dalam hatinya.
Jadi, yang kelihatan menjadi tukang gosip saya dan mereka yang mengumpat di dalam hati tetap terlihat seperti malaikat.
Pipi kiri dan pipi kanan
Jadi, rencana mulia itu selalu tertunda-tunda, sampai belasan tahun lamanya. Saat saya sudah merasa siap, ada saja pikiran yang tiba-tiba muncul yang mengatakan mengapa harus memaafkan, lha wong mereka memang salah kok, mereka memang yang jahat pada saya, mereka ini dan mereka itu. Dan, rencana itu senantiasa kandas di tengah jalan.
Apalagi kalau mengingat kalimat dalam ajaran agama saya yang mengatakan, orang menampar pipi kirimu berikanlah juga pipi kananmu. Wah... itu benar tak masuk akal untuk saya. Kalau orang mencium pipi kiri saya, maka saya tak hanya akan memberikan pipi kanan saya, tetapi semua area di tubuh saya.
Memberikan pipi untuk ditampar? Ya, mending saya tampar balik dan tak hanya kedua pipinya kalau bisa. Maka, memaafkan menjadi sebuah hal yang tak masuk akal. Terutama meminjam alasan teman saya yang "bijaksana" yang senantiasa mengatakan, "Yah… kita kan manusia biasa, sangat normal kalau kita punya banyak kelemahan dan susah memaafkan."
Awalnya saya sangat menyetujui pikiran teman saya itu. Saya ini kan tak sempurna, jadi normal kalau yang tak sempurna menghasilkan sesuatu yang tak sempurna, bukan? Yang tak normal adalah bila yang tak sempurna mampu menghasilkan yang sempurna.
Namun, dengan berjalannya waktu, setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana teman saya bisa mengatakan saya manusia yang punya banyak kelemahan, termasuk lemah syahwat, tetapi memiliki kekuatan menghina, mengejek, dan menjelekkan orang?
Saya pikir kalimat yang kelihatan bijaksana dari mulut teman saya itu hanyalah alasan untuk tidak memberi kesempatan kepada dirinya memanfaatkan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Atau mungkin ia tak bisa lagi melihat ia punya kekuatan karena seringnya mengatakan manusia punya kelemahan. Dengan kata bijaksananya itu ia seperti ingin mengajarkan saya untuk tetap tinggal dalam kelemahan itu.
Pemadam kebakaran
Mengapa saya senantiasa memilih dan merasa nyaman untuk berdiri dan mengaminkan saya punya banyak kelemahan, tetapi tak mau—bukan tak mampu—mencoba memberanikan diri meloncat ke sisi di mana saya punya kekuatan. Kalau saya punya kekuatan untuk menghina dan menyakiti orang, mengapa saya tak menggunakan kekuatan itu untuk memaafkan kembali mereka yang telah membuat hidup saya bertahun lamanya seperti neraka?
Coba Anda perhatikan kalimat terakhir yang saya tulis di atas. Mereka yang telah membuat hidup saya seperti neraka. Sekali lagi, saya masih memilih berdiri di sisi kelemahan saya sehingga saya bisa menuliskan bahwa yang membuat hidup saya sengsara seperti neraka bertahun lamanya adalah mereka yang menyakiti saya.
Mari coba meloncat dengan saya ke sisi kekuatan yang ada dalam diri saya. Kalau saja saya bisa berdiri di sisi kekuatan saya, maka saya akan menulis, yang membuat hidup saya sengsara seperti nereka tak lain adalah diri saya dan bukan mereka.
Namun, saya membiarkan diri saya terus berdiri di sisi kelemahan saya sehingga neraka kebencian itu terus menyala-nyala bertahun lamanya. Selamatnya saya tak jadi gosong karena terbakar amarah dan ketersinggungan.
Saya sekarang baru mau mencoba meloncat ke sisi kekuatan yang ada pada diri saya karena pada sisi yang baru ini saya akan seperti tim pemadam kebakaran yang siap meluncurkan air lewat pipanya yang besar dan dengan kekuatannya yang dahsyat sehingga api yang membakar diharapkan bisa dikalahkan. Diharapkan, karena belasan tahun lalu kantor di mana saya bekerja terbakar dan tim pemadam kebakaran datang dengan pipanya yang besar, tetapi tak punya kekuatan sehingga air yang keluar seperti orang buang air kecil.
Jadi, bila air saya bisa keluar dengan deras, saya tak perlu terbakar begitu lamanya. Karena air yang memadamkan akan memadamkan pikiran negatif saya dan saya siap memaafkan.
Orang lain bisa saja menjadi pencetus kebakaran, tetapi saya yang harus bertanya apakah saya ingin mempertahankan kebakaran itu atau tidak. Kalau tidak, maka sayalah yang harus berperan sebagai pemadam kebakaran dengan mempersiapkan kekuatan agar airnya tetap bisa kelewi (keluar maksudnya) secara maksimal.
Artinya, saya memang punya kelemahan, tetapi saya tak bisa hanya berhenti di situ dan merasa nyaman dengan kelemahan itu. Saya punya kekuatan, saya harus mampu berdiri di sisi yang positif ini. Dan satu hal yang akan saya ingat terus, saya ini anggota pemadam kebakaran.
1. Kalau Anda memutuskan memaafkan siapa pun, baik itu musuh, lawan politik Anda, atau orang yang menyakiti Anda, maka ingatlah, tindakan Anda itu adalah tindakan mulia. Bukankah ketika tiba saatnya Anda harus menghadap Sang Pencipta, maka tindakan mulialah yang diperlukan? Maka, jangan sampai ketika datang waktunya yang tak seorang pun tahu itu dan Anda tak bisa membuat janji terlebih dahulu seperti kebiasaan Anda membuat janji dengan dokter gigi langganan, Anda malah sedang naik pitam dan menyimpan dendam di lemari hati Anda.
2. Memaafkan adalah bukan soal kalah dan menang. Memaafkan adalah soal keberanian dan kemauan menjadi seorang pemadam kebakaran atau tidak. Kalaupun Anda kemudian mampu menjadi pemadam kebakaran dan Anda merasa menang karenanya, itu pun bukan berarti Anda menang atas musuh Anda, tetapi Anda memenangi pertandingan melawan kekerasan hati Anda. Itu yang membuat bila Anda mampu memaafkan, maka Anda akan memiliki perasaan yang luar biasa bak pemenang, bukan sebagai manusia kalah perang.
3. Suatu hari teman ibu saya bercerita suaminya mempunyai musuh bebuyutan sejak mereka masih muda. Kebencian itu bahkan nyaris berakhir dengan bentrok fisik. Suatu hari, setelah puluhan tahun dendam itu bersarang di hati keduanya, suami teman ibu saya itu menghadiri sebuah acara perkawinan dan kebetulan musuh lamanya juga hadir di acara itu. Suami teman ibu saya duduk bersama teman-temannya. Datanglah si musuh bebuyutan ini ke meja itu dan ia hanya menyalami teman-teman lainnya dan tidak suami teman ibu saya itu. Pada akhir acara, sebelum para undangan pamit pulang, suami teman ibu saya itu memutuskan untuk meninggalkan acara itu terlebih dahulu. Setelah menyalami teman-temannya dalam satu meja, ia mendatangi meja di mana musuh bebuyutannya itu duduk dan menyalaminya, menanyakan kabarnya, kemudian pamit pulang. Nah, kalau Anda ada pada kondisi seperti itu, Anda mau menjadi seperti suami teman ibu saya atau tetap menjadi si musuh bebuyutan?
4. Memaafkan sama sekali bukan sebuah tindakan yang sulit. Anda mau atau tidak, itu masalahnya. SM
Poso bergejolak lagi, 20 DPO ( warga sipil ? ) dan 1 aparat tewas dalam baku tembak. Siapa yang akan disalahkan? Polisi dianggap terlalu refresif dan mengabaikan upaya-upaya persuasif. Pertanyaan yang mengemuka kemudian sebenarnya apa yang menjadi penyebab kerusuhan dan gejolak di Poso ? Siapa di balik semua aksi-aksi kekerasan? Betulkah "kerusuhan" di Poso sengaja diciptakan dan pelihara oleh TNI untuk berbagai kepentingan ? Betulkah konflik ini adalah konflik agama dan gesekan antar tokoh politik ? Betulkah Jamaah Islamiyah ( JI ) ikut bermain dan adanya korelasi dengan Pesantren Nguruki karena terdakwa Hasanuddin adalah alumni Ngruki ? TERLALU SARAT DENGAN KEPENTINGAN!!!
Intinya menurut saya, segera hentikan dan selesaikan konflik Poso -apapun alasan dan kepentingannya- secara menyeluruh agar masyarakat yang tidak mengerti apa-apa dapat hidup dengan tenang. Semua pihak harus dengan rela melepaskan kepentingan apapun yang melekat, duduk bersama dengan niat bersih untuk menyudahi konflik ini, hilangkan semua dendam yang ada. Semua pihak : tokoh agama, tokoh masyaratakat, birokrat, aparat TNI/Polisi harus dengan ikhlas menyelesaikan kasus ini.
Akhir-akhir ini saya "jatuh cinta" kepada kakek keren ini meski mungkin terlambat karena seharusnya sudah dari dulu karena karya-karyanya sangat universal dan memberi pencerahan secara global tanpa tersekat oleh batasa-batasan primordial dan dikotomi sosial yang sangat absurb. Berikut ini biografi singkatnya yang saya "curi" dari situs pribadinya :
The Brazilian author PAULO COELHO was born in 1947 in the city of Rio de Janeiro. Before dedicating his life completely to literature, he worked as theatre director and actor, lyricist and journalist. Coelho wrote song lyrics for many famous performers in Brazilian music, such as Elis Regina and Rita Lee. Yet his most well known work has been done with Raul Seixas. Together they wrote such successes as Eu nasci há dez mil anos atrás (I was born ten thousand years ago), Gita and Al Capone, amongst other 60 songs. His fascination with the spiritual quest dates back to his hippie days, when he travelled the world learning about secret societies, oriental religions, etc. In 1982 Coelho published his first book, Hell Archives, which failed to make any kind of impact. In 1985 he contributed to the Practical Manual of Vampirism, although he later tried to take it off the shelves, since he considered it “of bad quality”. In 1986, PAULO COELHO did the pilgrimage to Saint James of Compostella, an experience later to be documented in his book The Pilgrimage. In the following year, COELHO published The Alchemist. Slow initial sales convinced his first publisher to drop the novel, but it went on to become one of the best selling Brazilian books of all time. Other titles include Brida (1990), The Valkyries (1992), By the river Piedra I sat Down and Wept (1994), the collection of his best columns published in the Brazilian newspaper Folha de São Paulo entitle Maktub (1994), the compilation of texts Phrases (1995), The Fifth Mountain (1996), Manual of a Warrior of Light (1997), Veronika decides to die (1998), The Devil and Miss Prym (2000), the compilation of traditional tales in Stories for parents, children and grandchildren (2001), Eleven Minutes (2003), The Zahir (2005) . He also adapted The Gift (Henry Drummond) and Love letters of a prophet (Kalil Gibran). To date, Coelho has sold a total of 75 million copies and, according to the magazine Publishing Trends; he was the most sold author in the world in 2003 with his book Eleven Minutes – even though at the time it hadn’t been released in the United States, Japan or 10 other countries! Also according to Publishing Trends, The Alchemist was to be found in the 6th place of world sales in 2003. Eleven Minutes topped all lists in the world, except for England, where it was in second place. The Zahir, published in 2005, was in third place of bestsellers according to Publishing Trends, after Dan Brown’s The Da Vinci Code and Angels & Demons. The Alchemist was one of the most important literary phenomena of the 20th century. It reaches the first place in bestselling lists in 18 countries, and so far has sold 30 million copies. The book has been praised by different personalities ranging from the Nobel Prize Kenzaburo Oe to the singer Madonna, who considers it one of her favourite books. It has equally inspired many projects – such as a musical in Japan, theatre plays in France, Belgium, USA, Turkey, Italy, Switzerland. It is also the theme of two symphonies (Italy and USA) and had its text illustrated by the famous French artist Moebius (author of the sceneries for he Fifth Element and Alien). His work has been translated in 62 languages, and edited in more than 150 countries.
Highlights PAULO COELHO entered he Guinness Book of Records as the author that signed more books in different editions (October 9th 2003, at the Frankfurt Book Fair). A Norwegian community, Arendal, gave copies of The Alchemist to all its civil servants, as a way of stimulating a new type of thought. Many MBA courses, such as the one from The Graduate School of Business of the University of Chicago recommends the reading of The Alchemist to its students. This book has equally been adopted in schools in France, Italy, Portugal, Brazil, Taiwan, USA, Spain, etc. The illustrated edition of The Alchemist, made by the artist Moebius, has already been released in many countries. The book The Alchemist has been adopted in schools in more than 30 countries, offering special editions to students. PAULO COELHO has managed to have three titles at the same time in bestselling lists in France, Brazil, Poland, Switzerland, Argentina, Greece, Croatia, and Russia. The pope John Paulo II welcomed the author in the Vatican in 1998. The World Economic Forum gave its most important prize to the author, the Crystal Award. Coelho has a weekly column in the Brazilian newspaper O Globo and in several other newspapers around the globe. If you wish to make a free download of some of these columns, click here. If you wish to read these columns on line (Portuguese only). If you wish to know in which countries these columns are published, click here. In March 2000, the French government gave to the author its most prestigious title "Chevalier de L'Ordre National de la Legion d'Honneur" .
IN January 2001, Paulo Coelho became member of the board in the Schwab Foundation for Social Entrepreneurship. This foundation favours social projects. The life of PAULO COELHO has already been the theme of documentaries for the Irish TV (Seven Days - a Journey with Paulo Coelho), Japanese (The road of Kumano in February, The Road of Santiago in September), People & Arts Channel ( Paulo Coelho, The Alchemist of Word), A&E Mundo, TV Prima, amongst others. Paulo Coelho has now his own drink: chocolate chaud with orange. It is a special homage paid to him by the Hotel Le Bristol's bar in Paris, which is a setting for some of the passages of his most recent novel The Zahir. During the months of March, April, May and June, Paulo Coelho travelled to celebrate the 20th anniversary of his pilgrimage to Saint James of Compostella in 1986. He also held surprise book signings - announced one day in advance - in some cities along the way, to have a chance to meet his readers. In ninety days of pilgrimage the author travelled around the globe and took the famous Transiberrian train that took him to Vladivostok. During this experience Paulo Coelho launched his blog Walking the Path in order to share with his readers his impressions. In 2006, PAULO COELHO launched a compilation of tales, opinions and ideas called Be Like a Flowing River, based on his weekly columns. This book will be launched in most countries only in 2008, since his new book The Witch of Portobello, will have a worldwide release in 2007. http://www.paulocoelho.com
Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami ketika melihat istrinya tersenyum. Suami yang baik, tentu akan berusaha dengan sekuat tenaga asalkan bisa membuat senang hati istrinya, membuat istrinya tersenyum. Tetapi, bagaimana jika permintaan istri terlampau sulit untuk dipenuhi. Jawabnya, yang penting berusaha dulu, diawali dengan sebuah niat. Kemudian pelan-pelan berusaha mewujudkan permintaan sang istri. Seperti kejadian yang dialami oleh seorang Ustadz bergelar Lc dari LIPIA Jakarta di kota saya.
"Abi, aku pingin dibonceng pake motor". Begitu permintaan istrinya.
Bagi suami yang mahir dan punya kendaraan bermotor sendiri, tentu mewujudkan hal itu mudah saja. Tak jadi soal. Tapi bagaimana jika suami tak punya motor dan belum bisa juga mengendarai sepeda motor. Sungguh, sebuah tantangan yang berat, permintaan itu tak mudah untuk segera terwujudkan. Sang ustadz sadar betul atas kekurangan dirinya, dalam waktu dekat, belum bisa memenuhi permintaan istrinya. Tetapi dalam diam, bertekad kuat agar bisa memiliki motor dan membocengkan istrinya. Sungguh, sebuah romantika tersendiri ketika impian itu benar-benar terwujudkan.
Diam-diam dikumpulkanlah uang. Mulai dari jeruh payahnya berjualan majalah, mengajar, sampai membantu menyadarkan orang yang kesurupan jin (ru'yah). Harapannya hanya satu, bisa membeli sebuah motor. Selang beberapa waktu, ternyata kerja kerasnya tak sia-sia, pada akhirnya bisa juga membeli sebuah motor bebek tua warna hijau. Motor itu menjadi saksi atas ketulusan dan kecintaannya kepada sang istri. Seseorang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun, masalahnya sekarang, bagaimana cara mengendarainya..?
Duh, sang ustdaz masih harus berjuang lagi.
Berlatihlah ia mengendarai sepeda motor. Tentunya dengan tertatih-tatih pula. Hambatan terbesar sang ustadz adalah, belum bisa belok kanan. Kalau mau belok kiri, lancar-lancar saja, tapi giliran mau belok kanan, susahnya minta ampun. Nah, dari cerita seorang teman, sang ustadz bisa belok kanan karena terpaksa, karena dikejar anjing yang memaksanya belok kanan. Terang saja, cerita teman itu membuat saya terpingkal-pingkal mendengarnya, tentunya juga bercampur keharuan yang dalam. Tetapi, jalan itu yang kemudian lambat laun bisa membuatnya lancar naik motor.
Sampai disini, saya belum mendengar lagi kisah sang ustadz. Pastinya, harapan sang istri untuk bisa dibonceng motor suaminya kesampaian juga. Sungguh, tak terbayangkan bagaimana kebahagiaan di dalam hati sang ustadz karena pada akhirnya bisa memenuhi permintaan istrinya. Jika dulu hanya bisa mengendarai sepeda mini untuk mengantarkan anak-anaknya yang juga sepeda itu dipakai istrinya. Kini, sang ustadz bisa bermesraan dengan berboncengan bersama istrinya. Romantis sekali yah....
Sebab dari cinta Semula yang agaknya susah menjadi mudah Begitulah cinta menemukan bentuknya...
Bagi para suami, memahami perasaan dan kemauan istri itu penting sekali. Seperti pada kasus sang ustadz tadi. Sebenarnya, permintaan sang istri tidak langsung diutarakan kepada suaminya. Permintaan itu muncul ketika sang istri mengikuti pelatihan "Keluarga Bahagia", saat mengikuti pelatihan itu, sang trainer menyuruh peserta untuk menuliskan impian-impiannya. Banyak diantara ibu-ibu yang ingin punya rumah sendiri yang besar, tidak ngontrak lagi ingin suaminya punya penghasilan tetap dll. Tapi, istri sang ustadz mintanya itu tadi "Dibonceng motor". Agak aneh, tapi itulah yang terjadi.
Nah, bagi para suami, sebagai penghormatan kepada istri, sesekali berikanlah kado cinta untuk sang istri. Apapun bentuknya, agar bunga-bunga cinta kembali mekar melalui senyum manisnya. Jika belum bisa melakukannya, berniat dan berusahalah. Jika belum juga bisa, sekedar SMS pun bisa sungguh bermakna, ucapkanlah "Aku Cinta Kamu" pada istrimu. Terlihat gombal tapi perlu. Jika sudah begitu, serasa dunia milik berdua. Duh..indahnya.
Dari seluruh negara yang ada di permukaan dunia, hanya Amerika Serikat yang lambang negaranya terdiri dari dua sisi dan masing-masing sisinya sarat mengandung simbol setan. Benarkah itu?
Dasar filosofi suatu negara terletak pada Lambang atau Simbol negaranya. Di mana pun di dunia ini, maknanya selalu demikian. Amerika Serikat yang resmi berdiri pada tahun 1776, memiliki Lambang Negara yang cukup unik karena memiliki dua sisi. Satu sisi bergambar Burung Elang yang mengembangkan sayap dan kedua kakinya mencengkeram anak panah dan daun zaitun, sedangkan sisi lainnya bergambar piramida masonik.
Di atas kepala burung elang tersebut, ada sekumpulan bintang yang membentuk susunan Bintang David. Bila dicermati, lambang negara Amerika Serikat ini dipenuhi dengan berbagai simbol yang seluruhnya mengarah kepada angka 13. Angka 13 sendiri sejak lama sudah dikenal dunia sebagai angka mistis yang sarat dengan pemujaan terhadap setan.
Selain sebagai angka setan, 13 juga bisa dianggap menyimbolkan 13 suku Israel, di mana suku ke-13 adalah Suku Benjamin yang terbuang. Atau 13 juga menyiratkan banyaknya jumlah koloni Inggris di Amerika saat Inggris masih berkuasa di benua itu. Apa pun, angka 13 ternyata memang banyak terdapat di lambang negara adidaya tersebut. Inilah buktinya:
Sisi Burung Elang, angka 13 terdapat di: * 13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David. * 13 garis di perisai atau tameng burung. * 13 daun zaitun di kaki kanan burung. * 13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun. * 13 anak panah. * 13 bulu di ujung anak panah. * 13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.
Sisi Piramida Masonik, angka 13 terdapat di: * 13 huruf yang membentuk kalimat 'Annuit Coeptis' * 13 huruf yang membentuk kalimat 'E Pluribus Unum' * 13 lapisan batu yang membentuk piramida.
Selain itu, di sisi belakang lambang negara AS ini, jelas-jelas berbentuk Piramida Yahudi yang lebih popular diistilahkan dengan The All Seing Eyes Pyramid.
Di dasar piramida terdapat angka Romawi yang jika diterjemahkan ke dalam tulisan latin memiliki makna 1776, tahun kemerdekaan negara AS. Lapisan batu yang membentuk piramida ada 13 lapis yang menyimbolkan ke-13 suku Yahudi.
Di atas puncak piramida yang belum jadi, bertahta All Seing Eyes, mata Dewa Horus, salah satu Dewa Utama dalam kepercayaan paganisme dan Kabbalah.
Tahun kemerdekaan Amerika Serikat memang tahun 1776 atau dalam tulisan Romawi MDCCLXXVI. Namun menurut banyak Simbolog, yakni para pakar ilmu simbol, angka Romawi tersebut sebenarnya mengandung kode tersembunyi yang merujuk pada angka satanisme yakni 666. Bagaimana membacanya?
Menurut mereka, dalam nilai jumlah besar, kadangkala huruf 'M' tidak disertakan dan hanya merupakan 'penghias'. Sebab itu yang tinggal hanya DCCLXXVI yaitu D = 500, C = 100, L = 50, X = 10, V = 5, dan I = 1.
Mari kita hitung: DC = 600, LX=60, dan VI=6, jadi 666. Mark of the Beast atau dalam bahasa pakar Alkitab juga disebut sebagai The Evil Trinity, Trinitas Iblis!. Inilah Amerika Serikat
Di era persaingan usaha dan hidup yang semakin sulit memang diperlukan terobosan yang sedikit berani, unik dan menarik. Saat ini, kita sebagai konsumen sudah sangat dienakkan oleh dampak persaingan ini, coba kita lihat di keseharian, dagangan apa yang tidak melintas di depan rumah kita saban hari, mulai dari sayuran, sarapan,salon berjalan, pemotong rumput, jahit sepatu, permak jok dan kasur, pot dan kembang serta masih banyak lagi terobosan "jemput bola" yang ujung-ujungnya membuat kita sebagai pemakai lebih dimanjakan, bahkan untuk mendandani binatang piaraan sekalipun.Kalo di Bontang malah dari dulu ada yang jualan lemari keliling pake sepeda! Kebayang gak beratnya?, bahkan kemarin ada yang menawarkan jasa unik : seorang ibu satu anak yang masih bayi ( ngakunya sich! ) menawarkan jasa menyapu halaman kantor terus minta dibayar berapapun untuk membeli makanan!
Tetapi di samping sebagai terobosan merebut pasar, mungkin juga ini menjadi indikasi bahwa mencari sesuap nasi yang halal di negeri yang gemah ripah roh jinawi, kaya akan sumber daya alam, negeri zamrud khatulistiwa sudah sangat sulit sehingga mengharuskan untuk lebih giat berusaha salah satunya yach lewat terobosan "jemput bola" tadi. ( sumber photo : kompascybermedia)
Pagi selalu menyimpan kehangatan dan hiruk pikuk manusia mengawali hari. Ada yang menarik di pagi hari sepanjang perjalanan ke tempat kerja, dari atas motor saya sering memperhatikan tingkah laku orang-orang menyambut pagi : angkutan kota yang hilir mudik, para karyawan yang seakan berlomba tiba di tempat kerja, pak polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, toko-toko yang baru buka menggelar dagangannya, anak sekolah menyemut memenuhi jalan, berebut angkot, motor yang melaju kencang. Ada dua hal yang selalu menjadi "santapan" retina saya yang saban hari : Anak TK ato anak-anak kecil dengan seragam putih-merah yang menggelayut di pinggang ayah ato ibunya di atas sepeda motor ato sepeda. Lucu, dengan mimiknya yang polos, bahkan ada yang sambil tiduran! Anak-anak selalu memberi harapan! saya membayangkan gimana nanti bila Earlene sudah sekolah ? Hal lain yang menarik ? Polwan maniz yang selalu mengatur di lalu lintas di simpang jalan! ( terkadang isteri saya menyikut pinggang saya dari belakang bila melewatinya! Awas Mata !!! )
Siapa sekarang yang tidak mengenal seorang Tukul Arwana. Seorang yang nyentrik dengan rambut cepak dan kumis tipis yang tetap dipelihara hingga panjang seperti kumis ikan Arwana. Yup! Saat ini dia menjadi begitu fenomenal sejak menjadi pembawa acara sebuah acara bincang-bincang di Trans7, Empat Mata. Namanya langsung melejit dalam jajaran artis papan atas Indonesia hehe.. Wajahnya dan aksinya yang khas dan banyolannya yang mengalir lancar dan sekenanya pun sekarang menjadi lebih sering muncul dan menghiasi layar kaca.
Tukul yang sebenarnya memiliki nama asli Rianto ini tiba-tiba menggebrak dunia hiburan tanah air dengan acara bincang-bincang Empat Mata. Acara Empat Mata ini memiliki jargon "Kembali ke Laptop" ini. Memang karena pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada bintang tamu di acara ini semua berasal dari senjata utamanya yaitu sebuah laptop, meskipun sering kali kebingungan saat error dan dia tidak bisa memperbaikinya.
Namun, dibalik itu semua Tukul alias Reynaldi ini mampu membuktikan bahwa tampang atau fisik bukanlah segalanya. Biarpun tampang ndeso alias kampungan tapi dia mampu membawakan acara ini dengan baik, lewat banyolannya yang quick thinking and quick response dan dengan kepolosannya mampu menggelitik banyak pemirsanya. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan pembawaannya yang ndeso tidak ditutup-tutupi, justru tampil apa adanya dengan rasa percaya diri yang super!!
Inilah yang membuat Tukul mampu mengkombinasikan acara bincang-bincang dengan humor dan lawakannya yang keluar begitu saja. Kesalahan pengejaan dalam bahasa Inggris dan keluguan seorang Tukul sebagai seorang yang kampungan acap kali muncul dalam acara tersebut, namun inilah yang menjadikan acara ini begitu sangat menarik. Lawakannya terkesan tidak dibuat-buat dan mengalir begitu saja secara alami. Slogan-slogan "Tak sobek-sobek mulutmu", "Fish to fish", "Puas, puas??!!", "Kembali ke laptop" dan yang lainnya mungkin menjadi sangat familiar saat ini di telinga pemirsa Empat Mata. Terbukti rezeki tidak mengenal tampang!
Mungkin kedua hal ini sangat berkaitan, dompet dan saku kanan celana. Ya! Sebagian besar orang memang menempatkan dompet kesayangan mereka yang berisi uang, ATM dan barang-barang penting lainnya di saku kanan celana masing-masing? Begitu juga dengan anda, bukan?
Bisa jadi itu merupakan sebuah kebiasaan karena setiap hendak menaruh dompet ke dalam saku selalu di saku kanan celana, sehingga tanpa dikomando terlebih dahulu alam bawah sadar kita meletakkan dompet di saku kanan celana.
Atau ini karena sebagian besar penduduk di bumi ini adalah right-handed, secara menurut wikipedia sebanyak 8 - 15 % manusia dewasa adalah seorang yang kidal alias left-handed, sebagian besar dari mereka adalah laki-laki. Jadi saat hendak memasukkan dompet ke kantong celana, tangan kanan yang aktif akan mencari kantong celana yang paling dekat dengan tangan kanan adalah kantong kanan celana, dan kebanyakan adalah kantong bagian belakang celana sebab jarang ada orang yang naruh dompet yang tebal dan kaku itu di kantong samping/depan celana karena itu pasti mengganggu gerak, dan kurang nyaman. Perkecualian juga bagi para ibu-ibu yang kebiasaannya adalah memasukkan dompet di tas, dan nenek-nenek yang menyimpan uang dan dompet di dalam tempat tersembunyi, di mana lagi kalau bukan di dalam BH, hihihi.
Dalam beberapa hari terakhir wilayah Jakarta dan sekitarnya kembali dilanda wabah flu burung. Masyarakat pun ramai membicarakan flu burung yang telah nyata-nyata menelan korban manusia.
Informasi ihwal penularan flu burung (avian influenza, bird flu) masih terbatas sehingga masyarakat belum sepenuhnya paham bagaimana virus H5N1 (penyebab flu burung) menulari manusia.
Virus ini masih kerabat dekat virus influenza A, dan sama-sama ditularkan lewat udara (airborne). Virus flu burung terbang ke udara di sekitar lokasi tempat unggas berpenyakit berada. Virusnya mungkin berasal dari kotorannya, liurnya, wadah makanan dan air minumnya, kandang, dan semua permukaan tanah yang dicemarinya. Itu sebab, ketika awal serangan flu burung, yang pertama-tama tertular hanyalah mereka yang berada berdekatan dengan kandang atau pasar unggas yang sudah berpenyakit ini.
Airborne Infection
Penularan secara airborne berarti manusia menghirup udara yang sudah mengandung virus ke dalam saluran pemapasannya. Kita tidak tahu, dan tidak pula merasa saat menghirup udara bervirus flu burung. Namun, harus diwaspadai kalau udara di sekitar lokasi yang sudah dijangkiti flu burung berisiko sudah tercemar virusnya. Selain itu penularan juga dapat terjadi secara kontak langsung lewat tangan. Kontak langsung dengan menyentuh, memegang, atau bersinggungan dengan semua yang sudah tercemar virus, termasuk saat berkontak dengan unggas atau telurnya. Dengan cara itu virus mencemari tangan, tubuh, dan segala yang dikenakan manusia. Bila tangan manusia yang sudah tercemar virus tidak dibasuh dan kemudian berkontak dengan liang hidungnya sendiri, dengan cara demikian virus flu burung yang sudah mencemari tangan bisa memasuki saluran pemapasan juga. Namun, tidak ada bukti bahwa dengan cara menelan, manusia akan tertular virusnya.
Dulu, di awal-awal penyakit flu burung menyerang, masih diragukan kemungkinan penularan virus antarmanusia. Namun belakangan semakin bermunculan kasus akibat penularan manusia-manusia, bukan saja dengan cara unggas ke manusia belaka. Dan ini yang diresahkan banyak orang.
Mengapa?
Karena bila penularan terbatas dari unggas ke manusia saja, lebih mudah mengisolasi unggas berpenyakit agar tidak mendekat kepada lingkungan manusia. Caranya, dengan mengatur keluar masuknya unggas dari peternakan berpenyakit.
Namun, tidak demikian jika manusia sendiri yang sudah terjangkit. Kita tahu manusia sendiri lebih mobil, lekas berpindah tempat, dan sukar dikendalikan dibanding unggas sekiranya -- sudah terjangkit. Itu berarti cakupan wilayah penularan dari- manusia ke manusia lain jauh lebih cepat menyebar.
Batuk dan Bersin
Penularan melalui udara atau airborne berarti ada virus yang ditumpahkan oleh pengidap virusnya ke udara lewat batuk, bersin, dan bercakap-cakap. Kendati unggas, termasuk burung beo sekalipun, tidak batuk atau bersin, penularan dapat terjadi lewat napasnya, selain lendir dan kotorannya.
Selama musim flu burung berjangkit, memelihara burung, bermain di pasar burung, atau memàsuki lokasi yang tercemar virus flu burung, berisiko tertular bila kita tidak melindungi diri dengan memakai masker khusus (kedap virus), bersarung tangan, dan pelindung mata.
Kita menyaksikan di televisi, rata-rata pekerja di peternakan ayam yang sedang membuang ayam mati akibat flu burung nyatanya tidak berpelindung, padahal mereka berisiko tertular. Bukan saja tubuh dan pakaian yang dikenakannya, melainkan juga mobil pengangkutnya, wadah telurnya, dan termasuk sepatu dan tempat peternakannya, semua berisiko tercemar virus yang siap dibawa kemana saja jika tidak ada larangan mengisolasinya. Di negara-negara terjangkit flu burung, misal Thailand, semua kendaraan yang berasal dari wilayah terjangkit flu burung dilarang masuk ke wilayah yang belum terjangkit. Termasuk menjaga ketat lalu lintas manusia dan ternak yang dicurigai sudah tercemar. Jangan lupa, kotoran burung bervirus yang mengering di permukaan tanah akan terbang bersama udara di sekitarnya, dan siap dihirup oleh manusia di sekitarnya. Atau bila tangan manusia berkontak dengan kotoran burung bervirus itu masuk ke liang hidungnya sendiri sebelum membasuhnya. Itu sebab kebiasaan membasuh tangan amatlah vital dalam upaya mencegah penularan.
Atau bisa pula terjadi tubuh manusia yang sudah berkontak dengan kotoran burung di alas kakinya lalu membawanya memasuki lantai pekarangan atau lantai rumahnya. Dengan cara demikian virus flu burung terbawa memasuki lingkungan manusia yang paling dekat.@
Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari seorang Bakri - Nelayan sederhana penemu tail horizontal stabilizer Pesawat Boeing 737-400 Kl 574 milik maskapai Adam Air yang hilang dalam penerbangan Surabaya - Manado 1 Januari lalu. Ketulusan menjalani hidup yang semakin menghimpit, kerja keras dan rasa tanggung jawab terhadap keluarganya. Di tengah hiruk pikuk pencarian pesawat naas tersebut, Bakri seolah tidak "tersentuh" dengan semua itu. Tanggung jawab sebagai warga kehidupan mengalahkan rasa empati dan kepeduliannya. Mungkin dalam pikirannya biarlah orang-orang pintar yang mengurusnya, karena sayapun punya tanggung jawab tapi bukan berarti saya tidak peduli dan prihatin. Ketulusannya menjalani hidup membuatnya menjadi "orang terpilih" dan "perantara" ditemukannya potongan Adam yang menjadi tabir pembuka misteri pesawat naas tersebut. Dan ketika dia diganjar 50 juta untuk "temuannya" ini, rasanya pantas-pantas saja.
yah, ketulusan senantiasa membawa rahmat!
( postingannya telat gara-gara Blog yang lagi error )
Beberapakali kuperhatikan kalimat menggugat keadilan dalam poligami bahwa manusia tidak akan bisa berbuat adil kecuali hanya Allah SWT saja yang bisa adil seraya merujuk kepada ayat-NYA sebagai sebuah pembenaran atas suatu sikap "kurang" terhadap poligami akan "ketidakadilan".
Bagaimana manusia bisa berbuat adil terhadap ister-isterinya sedangkan Allah sendiri jelas-jelas mengatakan bahwa manusia tidak akan bisa adil!
Ketika kutanya, adil yang bagaimana ?
Adil dalam berbagi jawab mereka
Jika adil dalam berbagi adalah secara sama rata akupun bertanya bagaimana Allah memberi ( nafkah ) rezeki kepada makhluknya secara tidak sama rata alias berbeda, bahkan Allah ciptakan makhluknyasedemikian rupanya ternyata masih berbeda juga tetapi kita masih berkata Allah Maha Adil?!
Lalu keadilan yang bagaimanakah yang Allah maksud ?
(photo Rini A. isteri ke-2 AA Gym hanya ilustrasi semata : sorry AA ! )
Barangsiapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saatdi siang hari atau malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tidakberhasil, itu lebih baik baginya daripada i'tikaf dua bulan. (Hadis riwayat al-Hakim dan ath-Thabrani)
Terkadang selalu aku bertanya-tanya, bagaimanakah menikmati berdzikir dalam bersosial sesama saudara-saudaraku se-Iman dan se-Islam sebagaimana kunikmati basahnya lidah ini, lincahnya jemari ini berhitung tasbih dengan pengkhidmatan hatiku dalam berdzikir pada-Mu
Kubaca lagi dan kuresapi ketidakberdayaanku ...Barangsiapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saat di siang hari atau malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tidakberhasil, itu lebih baik baginya daripada i'tikaf dua bulan.
(Hr.al-Hakim dan ath-Thabrani)
Ya Ilahi, mampukah aku menikmati dzikir sosialku, sebagaimana nikmatnya dzikir tasbihku ...Ajarkan hamba tentang cinta-Mu pada hamba-hamba- Mu ....
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 H : Semoga kita senantiasa bermandikan cinta Allah SWT
Black box. Kata ini sering didengungkan apabila terjadi kecelakaan pesawat terbang. Alat inilah yang dicari pada waktu pesawat mengalami musibah. Kalau Anda membayangkan bahwa alat itu hitam, enyahkan segera pikiran itu. Warna black box adalah oranye. Mengapa warnanya orange ? Ternyata tidak ada alasan apapun, warna ini menurut standar International Civil Association Organization (ICAO) saja .
Black box dalam setiap pesawat ada dua macam. Keduanya terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam. Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.
Cockpit Voice Recorder (CVR) berukuran 30 x 12,5 cm, untuk merekam percakapan pilot, kopilot, pilot dengan ATC, serta para awak pesawat. Sedangkan satunya bernama Flight Data Recorder (FDR) berukuran 49 x 12,5 cm yang merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.
Data lapangan yang dimaksud dapat dikumpulkan dari sejumlah tempat antara lain data cuaca pada BMG, rekaman percakapan dengan ATC, riwayat pemeliharaan mesin, dan data jam terbang pesawat.
Sistematika kinerjanya, semua data dikumpulkan oleh kotak instrumen, dan direkam dalam kaset, CD atau chip. Durasi perekamannya 30 menit untuk CVR. Maksudnya setiap 30 menit data percakapan akan terhapus dan diganti dengan yang baru secara otomatis. Sedangkan FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam, yang berarti selama 25-30 jam tersebut data akan terhapus dengan sendirinya. Alat ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.
Data yang telah diperoleh tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Jadi bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan. Visualisasi itu bisa memonitor seperti layaknya ada di dalam cockpit, bisa pula memonitor seperti di luar pesawat. ( dari berbagai sumber )
Dosa terbesar adalah ketakutan Rekreasi terbaik adalah bekerja Kesulitan terberat adalah keputusasaan Keberanian terbesar adalah kesabaran Guru terbaik adalah pengalaman Rahasia yang paling berarti adalah kematian Kehormatan terbaik adalah kepercayaan Keuntungan terbesar adalah anak yang saleh Pemberian yang paling berharga adalah partisipasi Modal terbesar adalah rasa percaya diri
Ali bin Abu Thalib ra adalah menantu Rasulullah yang merupakan figur kaum Syiah setelah Nabi sendiri.Ia adalah putra Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW .Sebagai sepupu yang usianya 32 tahun lebih muda, memungkinkan Ali diasuh langsung oleh Nabi. Karenanya tidak mengherankan jika dari golongan anak-anak yang pertama memeluk Islam adalah Ali. Ali menggantikan Utsman bin Affan ra sebagai khalifah (35-40H/656- 661M).
Lagi, dua tangan kanan Almarhum Saddam Hussein dieksekusi di tiang gantung hari ini : Barzan Al-Tikriti dan Awad Ahmed Al-Bandar ( seperti dilansir AFP ). Barzan, saudara tiri Saddam adalah Mantan Kepala Intelegen Irak sedangkan Bandar adalah Kepala Dewan Revolusioner Irak di masa Saddam. Keduanya digantung dengan tuduhan melakukan pembunuhan massal terhadap 148 orang Syiah di Desa Dujail pada Tahun 1980-an. Apapun dakwaannya kita turut prihatin dengan cara-cara keji AS ( BUSH ) dalam mengambil alih Irak dengan dalih-dalih yang sangat tidak masuk akal. Laknat Allah SWT untukmu BUSH!!!
Hari ini 15 Januari 2007, Ribuan massa turun ke jalan memenuhi Bundaran HI, gerakan yang dimotori oleh Hariman Siregar ( Tokoh Malari - pendiri Indonesia Democracy Monitor, indemo ) mengusung "CABUT MANDAT SBY-JK".
Meski dalam beberapa hal saya sebagai warga negara yang ikut memilih SBY-JY pada Pemilu 2004 kurang puas dengan kinerja beliau berdua - terutama pada pemberantasan korupsi, perbaikan ekonomi secara menyeluruh dan tidak hanya pada tataran makro, ketersediaan lapangan kerja yang memadai dll - saya sangat tidak setuju dengan aksi ini. gerakan ini tidak lebih dari romantisme seorang Hariman Siregar, Post Power Syndromnya Try Sutrisno ( orang yang dulu saya kagumi, dulu! ), dan kebuntuan seorang WS.Rendra ( yang sekarang lebih banyak mengurusi politik ketimbang ikut mencerahkan bangsa ini lewat karya-karyanya) serta keputusasaan tokoh-tokoh yang selalu "membungkus" dirinya dengan kata REFORMASI.
Dalam banyak hal, pemerintahan SBY-JK belumlah sesuai harapan, itu kalau kita menilik janji-janjinya sebelum terpilih, tapi apa salahnya bila kita memberi "ruang" bagi mereka untuk berbuat dan menuntaskan sisa masa pemerintahannya hingga 2009? Janganlah kita menjadi bagian dari orang-orang dengan pemikiran "Nihilisme" yang menganggap semuanya salah, nol, dan tak berarti. Akan lebih bijak dan elegan bila mereka - yang menggagas CABUT MANDAT SBY-JK - ikut andil sumbang pemikiran demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia tercinta ketimbang semakin membuat rakyat bingung ( terutama saya ) , apatis dan tak berpengharapan.
Sekali lagi, dari pandangan saya Gerakan ini tidak lebih dari Gerakan Sakit Hati dari orang-orang yang terpinggirkan secara struktural. STOP Mengacau dan Meracau, Mari Berbuat!!! Beri Solusi Jangan Ilusi !!!
KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal "Peristiwa Malari", tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.
Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam. PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar. Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan "jenderal kalajengking" (scorpion general). Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono "didubeskan", diganti Yoga Sugama.
Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah. Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria "pernah jadi ajudan Presiden". Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental. Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.
Malari sebagai wacana Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai "petrus" (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ. Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN. Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan "Petisi 24 Oktober". Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan. Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani "membina" orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru. Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166). Sebaliknya, "dokumen Ramadi" mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, "Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh". Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam "dokumen" itu tentu mengacu Jenderal Soemitro. Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo? Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan. Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.
setelah 12 hari akhirnya ini dia "jalan" menuju titik terang pencarian ADAM!!! Bukan BASARNAS, bukan TNI dengan peralatan canggihnya, bukan personil bantuan dari Singapore & Amerika Serikat dengan segala radar dan tetek bengeknya, bukan paranormal yang gak normal, bukan telaah para ahli yang teoritis ( apalagi ROY SURYO ; pakar pornomatika, karena ternyata kemampuannya hanya bisa menganalisa gambar porno yang diambil lewat HP ), bukan PULA relawan yang berangkat hanya berbekal semangat. Dialah BAKRI SANG PENEMU, nelayan sederhana dari desa BOJO DUA PARE-PARE dengan perahu sederhana tanpa kompas dan peralatan Navigasi yang canggih bisa mengalahkan kecanggihan UNSR MARY SEARS - kapal supercanggih Amerika Serikat yang hanya bisa "mutar-mutar" tanpa hasil. Thanks Mr. Bakri
Orang Yunani memiliki tokoh mitologis, Narsisus, yang jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Tiap kali memandang dirinya di permukaan air, Narsisus kagum akan ketampanan wajahnya.
Novelis humoris dan tangkas memainkan ironi, Paulo Coelho, dalam kisah pembuka novelnya, The Alchemist, menceritakan betapa banyak peri hutan merasa iri kepada telaga, tempat tiap pagi Narsisus mengagumi dirinya.
"Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan mata jernih itu," kata peri hutan.
"Apa dia tampan dan matanya jernih?" jawab telaga.
Lho, kamu melihatnya tiap pagi bukan?"
"Tidak. Aku tak sempat melihatnya sebab tiap kali ia jongkok di tepiku, aku sibuk memandang kejernihan wajahku sendiri yang terpantul di matanya."
Saya kagum membaca ketangkasan humor novelis ini. Dengan ringkas dan bagus ia hendak mengatakan, seperti para psikolog yang berurusan dengan "abnormalitas"—bahwa si telaga, mungkin maksudnya kita—sering lebih narsisisus daripada Narsisus sendiri. Sering kita berperilaku tak sehat, narsisme, tetapi tak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa.
Gejala tak sehat ini direkam pula dalam buku Alice Miller, The Drama of the Gifted Child: The Search for The True Self (Drama Anak-Anak Kita: Membedah Sanubari Mencari Diri Sejati) yang menguraikan betapa berjuta-juta anak di dunia menjadi korban watak narsisme orangtua mereka sendiri.
Kemudian anak-anak itu berangkat dewasa, secara narsistis pula. Dan ketika menjadi orangtua, mereka pun memperlakukan anak-anak seperti dulu mereka diperlakukan secara tak sehat.
Cinta orangtua yang narsistis tadi, pada hakikatnya wujud cinta pada diri mereka sendiri. Orangtua menyayangi anak bukan demi si anak melainkan demi diri sendiri.
Dan kita pun sering diperhadapkan pada sikap tak terduga. Anak yang tampak manis dan lembut, ternyata menyimpan potensi "bom" rasa cemas, takut, frustrasi, juga dendam secara sosial, dan dengan mudah meledak. Anak bunuh diri tanpa alasan masuk akal. Orang dewasa membunuh dengan kejam orangtua, istri, suami, atau anak sendiri juga tanpa alasan masuk akal.
Tentu saja tak masuk akal, sebab semua alasan terpendam di bawah sadar, disembunyikan rapat di balik rasa cemas yang disulap menjadi kepatuhan. Mereka patuh bukan karena patuh, tapi karena takut. Menjadi anak saja sudah sulit. Apa lagi menjadi anak di dalam keluarga otoriter. Menjadi rakyat itu sulit, jalanan macet, dan harus mengalah dengan frustrasi tiap kali ada pejabat lewat dengan kawalan polisi.
Kita takut pada orangtua otoriter, guru galak, polisi, satpam, tentara, pengawal presiden atau wakil presiden, ajudan menteri yang lebih dari menteri, atasan di kantor yang melebihi kuasa Tuhan, dan sikap banyak Bank yang mempekerjakan preman kejam menjadi "debt collector" berjiwa jin dan hantu.
Mengapa kita sering membikin takut orang lain, dengan rasa bangga? Mengapa kecemasan orang lain menjadi kebahagiaan kita? Mungkin karena kita pun tak sepenuhnya waras.
Para selebriti—intelektual maupun yang sama sekali tidak intelek dan sebetulnya membosankan—hati-hatilah terhadap pengagum, atau pencinta fanatik. Banyak tokoh dunia dibunuh—juga Ghandi yang mulia dan agung—oleh pencinta dan pengagum fanatiknya.
Mengapa banyak pencinta dan pengagum fanatik pada tokoh publik? Mungkin karena pada dasarnya banyak orang tak pernah mendapat—dan karena itu membutuhkan—cinta dan kekaguman. Lalu mereka mengagumi orang lain demi diri mereka sendiri.
Pengagum sobat saya, kiai AAgym, berbalik menjadi dengki, marah, mengutuk, karena sobat ini dianggap cermin diri mereka, tapi cermin itu dibikin retak. Diri mereka yang cemas, merasa kurang, merasa rendah, dan berharap, tiba-tiba dikecewakan. Dulu AAgym pasti tak terlalu sadar bahwa kekaguman yang menjulang ke langit dari begitu banyak warga yang butuh kagum, pada dasarnya juga potensi kebencian. Kiai ini mungkin mengira mereka kagum pada dirinya, padahal orang-orang itu kagum hanya pada diri mereka sendiri seperti Narsisus dan Telaga dungu itu, Cinta mereka tak sama dengan cinta pada Negara, yang menurut John Lenon membuat orang rela "to kill or die for" rela berkorban. Cinta dan kekaguman publik pada tokoh agama, seni, ilmu, filsafat, dan tokoh politik yang bisa mudah menang pemilu, disertai "bom" kemarahan, jengkel, kecewa, benci, dan niat balas dendam, dari memanggul setinggi langit ke niat mengubur dalam-dalam hingga kebencian terpuaskan.
Sekarang para tokoh politik mungkin mulai sadar, betapa tak sehat suasana pemujaan politik di masyarakat. Sang Terpuja, pelan-pelan diancam kebencian, kemarahan, rasa kecewa, frustrasi, dan serangan politik bertubi-tubi. Musuh politik menari-nari di atas kebencian terhadap orang lain. Ini pun sebenarnya kedunguan yang tak disadari. Dikiranya dirinya tak mungkin dikenai sikap serupa. Kenapa kita tak mampu mengelola cinta dan kekaguman tetap menjadi cinta dan kekaguman? Karena kita terbius popularitas. Kita terbius aroma pujaan, dan lupa membalas dengan kerja keras untuk mewujudkan harapan. Jangan lupa, di dunia politik, pendukung, pencinta, pemuja, tim sukses, intinya mendukung, mencintai, memuja, dan menyukseskan harapan mereka sendiri. Begitu harapan dikecewakan, mereka siap mengasah pedang pembunuh naga.
Pengagum, atau pemuja, juga dungu. Orang kok dipuja. Salah sendiri. Watak fanatis harus diubah. Kita mencintai, atau memuja secara dewasa. Dan kalau orang cukup dewasa, ia tak perlu pujaan. Akal, rasionalitas, dan hati harus seimbang supaya kita bisa meminta dan bisa memberi.
Kalau memberi—cinta dan pemujaan—ya harus memberi. Kita tak boleh terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tak boleh terlalu dekat Narsisus.
Demikian yang kerap terjadi dengan lagu-lagu Bob Marley yang berbahasa Inggris dalam gaya bahasa dan dialek Jamaica atau Rasta. Bagi yang baru mendengarnya, musik Reggae Bob sering dianggap musik kelas bawah yang tidak berkelas, layaknya musik dangdut di Indonesia. Bukan itu saja, pribadi Bob Marley sendiri sebagai pemusik sering disinisi sebagai “peracau” yang cuma bermimpi dibuai asap mariyuana. Kenyataannya, saat ini tercatat lebih dari 300 juta keping rekaman Bob Marley digandakan di seluruh dunia, tidak termasuk versi bajakannya. Harian New York Times menilai Bob Marley sebagai musisi paling berpengaruh sepanjang paruh kedua abad ke-20. Lagunya One Love dipilih sebagai Anthem of Millennium oleh radio BBC Inggris. Majalah Time menobatkan Exodus sebagai Album Terbaik Abad ke-20. Dan catatan dari Presiden Amnesty International, Jack Keley, bahwa kemana pun ia pergi ke seluruh dunia, Bob Marley selalu menjadi simbol kebebasan! Dan lagu Get Up Stand Up, selolah identik dengan Amnesty International dan perjuangan kemanusiaan lainnya. Siapakah sesungguhnya Bob Marley?Awalnya adalah Ska Debut Bob dimulai bersamaan dengan demam musik anak-anak muda seusianya seiring dengan eforia kemerdekaan Jamaica, sebuah negara pulau di Laut Karibia (bagian tengah benua Amerika), dari penjajahan Inggris pada tahun 1962. Di tahun itu Bob pertama kali merekam suaranya dalam lagu berjudul Judge Not. Di tahun itu pula, Bob bertemu anak muda lain yang punya ambisi musik, yaitu Neville O”Riley Livingston (Bunny Wailer) dan Peter McIntosh (Peter Tosh) dan membentuk band bernama The Wailing Wailers. Single pertama The Wailing Wailers, Simmer Down (1963). Di masa-masa awal itu musik Bob bercorak Ska, sebuah ritme asli Jamaica yang saat itu menjadi musik dominan di Jamaica. Sejak pertama itu pula syair-syair Bob begitu penuh percaya diri dan berisi ungkapan-ungkapan yang mengkiritik penguasa kolonial dan akibat yang ditimbulkannya.Di masa itu stasion radio masih berada dalam kungkungan pemerintahan kolonial sebelumnya sehingga hanya menyiarkan musik-musik barat dan tak ada tempat untuk musik lokal, apalagi yang bersyair penuh kritik. Karena itu rekaman album Bob hanya diperdengarkan secara keliling oleh penyedia jasa sound system, dari satu pesta ke pesta lain. Lewat suatu perdebatan yang rasional dan patriotik, akhirnya Bob berhasil “memaksa” seorang penyiar radio untuk mengudarakan lagu-lagunya. Mulai saat itulah lagu-lagu Bob dikenal di seantero Jamaica dan spontan mendapat tempat di hati rakyat Jamaica. Lagu-lagu Bob selalu penuh dengan metafor-metafor khas Jamaica dan menjadi inspirasi serta menggedor kesadaran rakyat Jamaica untuk bangkit dari kemiskinan dan ketertindasan. Salah satunya adalah metafor-metafor yang ada dalam lagu I Shot The Sheriff.Bob Marley dan Politik Bob tak pernah berpolitik dan bukanlah seorang politisi yang kerap berorasi akan penindasan. Baginya yang terpenting adalah komitmennya pada kehidupan dan alam. Musik-musiknya menjadi semacam catatan akan penindasan yang dilihat dan dirasakannya. Saat Bob bekerja di Amerika Serikat sebagai pembersih lantai di Hotel Dupont atau pun bekerja shift malam di pabrik mobil Chrysler, ia mengalami apa yang disebut diskriminasi ras hingga puncaknya pada kerusuhan rasial dan pembantaian kaum negro oleh Ku Klux Klan. Hal itu membuat Bob shock dan memutuskan kembali ke Jamaica. Di Jamaica, Bob mendalami spiritualitas Rastafari, di mana mengajarkan pembebasan diri dari ketertindasan tanpa melalui kekerasan. Lewat musiknyalah Bob menemukan senjatanya. Dengan corak baru dan petikan gitarnya yang khas musiknya menjadi semakin berkarakter, disebut Raggae. Karenanya musik Bob menjadi semacam surat kabar tentang kehidupan, khususnya berita dan pembelaan kaum yang ditindas. Musiknya menjadi bahasa universal tentang kemanusiaan yang kemudian juga menjadi inspirasi di belahan dunia lain. Adalah Island Record, Inggris yang berperan menyebarkan gagasan-gagasan Bob keluar Jamaica hingga menjadi demam di Eropa. Perkembangan di Jamaica sendiri semakin tidak menentu. Saat itu Jamaica tengah dilanda kerusuhan akibat ketidakpuasan masyarakat karena janji-janji kehidupan yang lebih baik pasca kolonial tak cepat terwujud. Kerusuhan semakin meruncing pada perpecahan bangsa akibat perseteruan politik yang memanas antara PM Michael Manley yang berkiblat ke Kuba dan lawan politiknya Edward Seaga yang berkiblat ke AS. Pada 1976, Bob diminta PM Michael Manley untuk menggelar konser ”Smile Jamaica” untuk menghibur kembali rakyat Jamaica yang tengah susah. Namun konser itu kemudian dipolitisir, karena diselenggarakan menjelang pemilu. Bob akhirnya menjadi korban serbuan sekelompok orang bersenjata ke rumahnya, dua hari sebelum konser. Tangannya terserempet peluru, namun setelah perawatan di rumah sakit, Bob tetap melanjutkan tekadnya menggelar konser. Baginya, hidupnya tidaklah penting, yang terpenting adalah kehidupan rakyat Jamaica. Bob tetap bernyanyi di bawah penjagaan aparat yang ketat. Sesudah konser, Bob mengasingkan diri ke London, selain untuk menenangkan diri, alasan keamanan juga menjadi pertimbangan mengingat CIA memandang musik Reggae semakin dianggap berbahaya sebagai penyulut kesadaran rakyat Jamaica dan gerakan anti Amerika.Tokoh HumanisKecintaannya terhadap Jamaica tak bisa membuatnya berlama-lama betah di London. Baginya Jamaica adalah representasi orang kulit hitam di seluruh dunia serta representasi kemiskinan dan penindasan di seluruh dunia. Karenanya ia merasa harus selalu menjadi bagiannya untuk terus mewartakan serta memperjuangkannya ke seluruh dunia. Setelah empat belas bulan, 1978 Bob pulang ke Jamaica. Melihat Jamiaca yang semakin parah dengan aksi-aksi kekerasan, penculikan dan pembunuhan, Bob berinisiatif untuk menggelar konser gratis bagi proses rekonsiliasi bagi kelompok politik yang berseteru dan menyatukan kembali Jamaica. Konser diberi nama ”One Love” Peace Concert. Berkat kharisma Bob Marley yang dicintai rakyat Jamaica, konser berlangsung aman dan kedua lawan politik yang berseteru bisa dihadirkan di atas panggung memenuhi permintaan Bob untuk berpelukan dan berdamai.Selanjutnya Bob bertekad membangun Jamaica. Ia membangun perusahaan rekamannya sendiri, Tuff Gong Record, di rumahnya. Dari hasil penjualannya, Bob dapat memberi makan dan menyantuni orang-orang miskin Jamaica. Tercatat ada 3.000 orang lebih yang diberi makan setiap hari. Sementara itu Bob juga terus concern akan kelaparan yang terjadi di sebagian belahan Afrika serta politik diskriminasi warna kulit (apartheid) yang masih dijalankan di Afrika Selatan. Semua itu disuarakan Bob dalam lagu Unite Africa dalam album terbarunya. Kontan saja lagu itu dilarang diperdengarkan di Afrika Selatan. Seluruh piringan hitam album tersebut mengalami sensor dengan menyilet track lagu tersebut dan mencoret pada bagian covernya. Di sisi lain Bob malah mendapat penghargaan menjadi satu-satunya artis asing yang diundang dalam konser Kemerdekaan Zimbabwe yang dihadiri oleh Pangeran Charles dan persiden pertama Zimbabwe Dr. Robert Mugabe pada 1980.CIA di Balik Kematian Bob?Di tahun 1980 juga Bob mendapat undangan konser tur di beberapa tempat di Amerika Serikat oleh organisasi persaudaraan kulit hitam AS. Di suatu hari minggu, 21 Sepetember 1980, Bob yang tengah berjogging di Central Park, New York terjatuh dan dilarikan ke rumah sakit. Ternyata penyakit melanoma, kanker kulit yang telah dideteksi 3 tahun sebelumnya telah menyebar ke paru-paru dan otaknya. Dokter pun menduga umur Bob hanya akan bertahan beberapa minggu lagi. Delapan bulan setelah berjuang dengan kondisi tubuh yang terus merosot, Bob akhirnya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pemakamannya dilangsungkan di Jamaica pada 21 Mei 1981. Banyak pihak yang tak percaya akan kepergiaannya dan meragukan kematiaannya secara normal. Apakah ada peran CIA di balik kematian Bob? Banyak yang menghubung-hubungkan aktivitasnya dengan operasi intelejen AS itu. Apalagi kanker melanoma yang disebabkan kelainan gen, hanya dialami oleh orang kulit putih. Kematian Bob yang misterius ini pun akhirnya membawa pada latar belakang Bob sesungguhnya. Ayah Bob Marley, Captain Norval Marley, adalah pria kulit putih Jamaica berusia 50 tahun anggota British West Indian Regiment yang menjadi pengawas perkebunan. Ibunya, Cedella Booker adalah gadis kulit hitam 18 tahun yang bekerja di perkebunan tersebut dan dihamili sang pengawas. Mereka menikah tahun 1944 dan pada 6 Februari 1945 lahirlah Robert Nesta Marley alias Bob. Setelah itu sang ayah meninggalkan keluarganya, walaupun sesekali masih memberikan dukungan finansial bagi pertumbuhan Bob. Berasal dari ayah kulit putih inilah yang memberikan kemungkinan bagi Bob secara genetik menderita melanoma. Lepas dari kematiannya yang misterius, kehidupan dan karya-karya Bob adalah sangat nyata. Kesedihannya, cinta dan pemahamannya pada kemanusiaan, pemikiran dan spiritualitasnya adalah sesuatu yang masih eksis dan berpengaruh hingga hari ini. Bob adalah musisi yang disiplin, selalu menjadi orang pertama yang datang dan yang terakhir pulang di studio rekaman. Selalu tepat waktu dan bersungguh-sungguh dalam setiap latihan. Bob sangat tidak dapat mentolerir suasana latihan yang tidak serius. Di balik syair-syairnya yang keras, Bob sesungguhnya adalah seorang yang rileks dengan hobbynya dan kemahirannya bersepak bola. Dan di balik kekerasan hatinya, sesungguhnya Bob adalah pribadi yang romantis dan penuh perhatian. Lagu Stir It Up ditulis dan digubah khusus untuk kekasihnya Rita yang kemudian dinikahinya dan memberikan lima orang putra dan seorang putri. Keenam anaknya dari Rita itu pun lima di antaranya berprofesi sebagai musisi, dua di antaranya peraih Grammy yaitu Ziggy Marley (singer & songwriter) dan Stephen Marley ( thanx to Amild u/ kontribusi tulisan ini )
Ada pengalaman menarik hari ini ( sebetulnya tidak seberapa menarik karena ini adalah reduplikasi semata )
Ceritanya karena sesuatu hal maka hari ini saya harus ke Bank- BNI - , sambil menunggu antrian iseng-iseng saya tanya CS cewek yang di tag name nya bernama Andi, pikiran saya ini cewek pasti orang Bugis atau setidaknya punya darah Bugis karena Andi ( dalam pikiran saya ) adalah gelar kebangsawanan Bugis, apalagi dia cewek ( mana ada cewek namanya Andi tanpa embel-embel bangsawan tadi ) dan ternyata betul dia orang Bone yang lahir dan besar di Kalimantan, saya pun cerita kalau saya orang Bugis, dengan mimik heran diapun tertawa ” ah, bapak becanda dari namanya aja pasti Bapak Orang Jawa, Heru Hastowo itu nama jawa pak!” Dengan setengah memaksa saya yakinkan dia bahwa saya orang bugis cuman kebetulan bapak saya orang jawa!
Sepenggal cerita di atas sudah berulang-ulang kali saya alami, pun ketika teman-teman saya yang tahu kalo saya dari Makassar setengah mengejek ” orang Bugis kok pake nama Jawa ” , Bapak saya Orang Jawa makanya dikasi nama Jawa ” ooooo, begitu”. Pertanyaan yang paling saya benci adalah : Heru, orang apa ? Bagaimana saya harus menjelaskan? Terkadang ( selalu ) saya lebih senang mengaku sebagai orang Bugis atau Orang Toraja ( Tanah Leluhur Ibu saya ) ketimbang sebagai orang Jawa , pertama, saya lahir dan besar tidak di Jawa, kedua, saya lebih ”dekat” secara emosional kepada kebudayaan orang sulawesi pada umumnya daripada Jawa, saya sangat memahami adat-istiadat, norma dan budaya yang melingkupi kehidupan orang celebes. Ketiga, saya tidak suka mengaku sebagai orang Jawa ( walopun secara Patrilinear saya adalah Orang Jawa ) karena secara sosiopolitik pertama : tidak ada hal yang bisa mendekatkan saya secara emosional ( juga ) pada kultur jawa walopun banyak hal yang saya pahami tentang itu katakanlah jargon dan ”tetekbengek” ke-jawa-an. Kedua : saya sedikit ”trauma” dengan apa yang menurut saya sebagai Proses Jawanisasi ( maaf, saya tidak bermaksud primordialistik meskipun kalo kita berbicara ”kamu orang apa?” sesungguhnya kita telah masuk ke wilayah primordial ) oleh Pak Harto dengan Program Transmigrasi yang menurut saya adalah proses jawanisasi indonesia dengan dalih pemerataan pembangunan, distribusi penduduk, perbaikan taraf hidup, menghidupkan lahan mati menjadi lahan pertanian dan dalih-dalih lainnya padahal menurut saya ( selalu menurut saya karena ini adalah murni pendapat pribadi, maaf kalo ada yang kurang berkenan ) semua ini sesungguhnya adalah cara Eyang mempertahankan kekuasaannya, dengan orang jawa di mana-mana maka dengan mudah beliau ”memasarkan” jargonjargon pembangunannya seperti Jer Basuki Mawa Beya ( setiap kesuksesan butuh pengorbanan ) maka diambillah tanah-tanah rakyat tanpa ganti rugi sepeserpun untuk jalan raya, perkantoran atau untuk kepentingan lain. Dan hal ini sangat dipahami dan diterima oleh orang jawa, bagaimana misalnya dengan bukan orang jawa ? Tentu jargon ini tidak laku. Dengan orang jawa menyebar di sulawesi, kalimantan dan sumatera maka secara tidak langsung semua bisa ”termakan mentah-mentah” .
Sekali lagi postingan ini tidak bermaksud apa-apa karena sifatnya hanya pandangan pribadi dan tetap dalam ”Kerangka NKRI” dan tetap dalam semangat Ke-bhinneka Tunggal Ika-an( meminjam istilah SBY ) dan jika sedikit menyikut ”orde baru” ini hanyalah trauma masa lalu dan bentuk dari sisa-sisa perjuangan ( begini begini saya ikut andil melengserkan eyang dengan serangkaian demonstrasi Tahun 1998 ) . Maka mulai sekarang JANGAN TANYA SAYA ORANG APA? Semoga anak saya pun nantinya tidak bingung jika mendapat pertanyaan serupa karena di darahnya mengalir darah Jawa, Bugis, Enrekang dan Toraja ( Nah Lho......... )
1 aku kagum sekali dengan Guevara, dengan kecintaannya terhadap hidup ini dan perempuan. namun aku tak suka dengan jalan yang ditempuhnya untuk mencapai kebebasan.untuk berjuang memperoleh kebebasan, aku lebih memilih Ghandi: visinya, metodenya, maupun prakteknya.aku menolak kekerasan dalam semua bentuknya, apapun tujuannya, apapun justifikasinya, baik kekerasan individual ataupun kolektif.dalam perjuangan menegakkan kebebasan, aku juga lebih memilih partisipasi seluruh komponen bangsa, tidak terbatas satu kelompok tertentu, siapapun mereka.
Guevara: kelompok, kelas, golongan, elitis, ...dst. di sini kekerasaan menjadi praktek yang riil.
Ghandi: seluruh komponen bangsa bersatu padu, bersenjatakan perdamaian, bersikap terbuka terhadap orang lain.akan tetapi, praktek kebudayaan kita nyatanya lebih dekat kepada Guevara ketimbang kepada Ghandi.
Jujur aku katakan, aku termasuk mereka yang mengatakan: kita tidak perlu Guevara! yang kita butuhkan Ghandi!
Pengalaman membuktikan, Guevara adalah jalan monarki untuk melumpuhkan kekuatan kita, untuk menghancurkan hidup kita, untuk meluluh-lantakkan harta benda kita, untuk menggagalkan kita, untuk menistakan keberadaan dan kehadiran kita di dunia ini.kebebasan memiliki senjatanya sendiri.namun sejak ia bersenjatakan kekerasan, ia berubah dan berbalik menjadi musuh bagi kebebasan itu sendiri: ia menjadi semacam permusuhan terhadap diri dan orang lain pada saat yang sama.senjata kebebasan tiada lain kecuali kebebasan – kecuali perdamaian.aku ulangi: ya, kita butuh Ghandi, bukan Guevara!
2 tak ada seorang pun yang meminta agar kita menjadi penguasa yang adil, untuk menjadi politikus ataupun ilmuwan besar, untuk menjadi filosof, penyair, ataupun seniman.tak ada seorang pun.yang diminta semua orang adalah agar kita menjadi tiran, agar kita rusak dan merusakkan, agar kita memuliakan kekerasan, agar kita menyusun rencana untuk saling mengenyahkan, untuk saling membunuh, untuk saling membuat miskin, untuk saling mengusir, untuk saling mengoyak.itu tuntutan yang belum cukup kita penuhi dengan hanya sekadar melakukannya dengan penuh gairah, akan tetapi juga harus dilakukan dengan penuh suka cita.katakanlah padaku,siapakah engkau, o orang yang membuatku tenang, tentram, dan bungkam?
3 bila kita ingin menilai diri kita, perbuatan, dan pemikiran kita, sejak pertengahan abad dua puluh yang baru berlalu hingga hari ini, kita akan mengatakan bila kita jujur:kita bukanlah tuan bagi hidup kita, sepanjang periode ini. keberadaan kita tak ubahnya seperti bola yang disepak kesana-kemari oleh orang lain.
4 kadang kala, aku merasa kita tidak perlu lagi menggali kuburan untuk kematian kita. itu karena kepala dan tubuh kita telah menggantikannya. betapa banyak kuburan yang terdapat di dalam pemikiran dan perbuatan kita!kita semua nyaris menjadi kuburan yang berjalan.lihatlah kondisi Irak, sebagai salah satu contoh: ia meyakinkan kita bahwa sejarah religiopolitik kita masih lebih memprovokasi agar kita saling membunuh dan berpecah-belah, dan lebih menyerukan kesia-siaan kita.ia sejarah yang menghijabi pandangan kita untuk menatap masa kini, kebenaran-kebenaran dan tuntutan-tuntutanny a. penghijaban masa kini tiada lain berarti cara dan jalan untuk menghijabi masa depan.
Rasa Kemanusiaan saya tergugah, saya sedih, saya menangis..............
"Ya Allah," gumam Saddam Hussein lirih menjelang saat-saat akhir hidupnya di tiang gantungan. Hari Sabtu, 30 Desember 2006, sebelum fajar menyingsing di sekitar Baghdad, berakhirlah sudah hidup Saddam Hussein (69).
Hanya dalam hitungan sepuluh detik, nyawa meninggalkan raganya. Inilah lembaran terakhir mantan orang kuat di Irak yang berkuasa sejak tahun 1979 hingga 2003. Kekuasaan yang pernah dipegangnya selama tiga dasawarsa itu tidak ada artinya lagi. Gelar "Singa dari Babilon" yang pernah disandangnya, juga tinggal kenangan. Impiannya untuk menyejajarkan dirinya dengan raja agung zaman Babilonia, Nabukadnesar, yang pernah menaklukkan Jerusalem, tetaplah impian. Begitu pula keinginannya mengulang kehebatan pemimpin akbar Timur Tengah, sang penakluk Jerusalem, Sultan Salah al-Din Yusuf ibn Ayyub atau Saladin (1137-1193), tinggallah cerita. Saddam Hussein justru seperti mantan Presiden Afganistan Najibullah dan mantan Perdana Menteri Pakistan Ali Bhutto. Ketiganya dihukum gantung. Najibullah digantung di depan pintu gerbang istana kepresidenannya oleh anak-anak dan para korban kekuasaannya (1987-1992). Hidup Ali Bhutto diakhiri oleh lawan-lawan politiknya di bawah pimpinan Zia ul-Haq, tahun 1979. Dan, akhir pekan lalu, Saddam dihukum gantung setelah pengadilan pada tanggal 5 November 2006 memvonis hukuman mati. Ia dinyatakan bersalah karena memerintahkan pembunuhan massal terhadap 148 orang pada tahun 1982 di Dujail. Keputusan pengadilan itu dikuatkan oleh pengadilan banding, 26 Desember 2006. Apakah "akhir garis hidup" Saddam memang harus lewat hukuman mati? Sekitar 40 tahun silam, 25 Februari 1960, Saddam pernah dijatuhi hukuman mati in absentia karena terlibat dalam usaha kudeta gagal terhadap pemimpin Irak saat itu, Jenderal Aldul Karim Qassim.
Seorang pemimpi
Buku Saddam Hussein telah ditutup. Hanya saja kisahnya tidak ditutup dengan akhir yang bahagia, tapi sebuah ironi. Walaupun Saddam mengatakan, "Inilah akhir hidupku. Saya mengawali hidupku sebagai pejuang karena itu kematian tidak menakutkanku", seperti disiarkan jaringan televisi CNN dan BBC. Seakan kisah hidup Saddam membenarkan ujar-ujaran "siapa yang merebut kekuasaan dengan pedang akan jatuh oleh pedang pula". Saddam menapaki karier politiknya hingga ke puncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas Presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun 1979. Ketika kekuasaan sudah di genggamannya, ia bermimpi untuk menyatukan seluruh Dunia Arab sebagai "Singa dari Babilon". Ia berusaha menjadi pemimpin Arab yang tiada tandingannya. Di dalam negeri ia membangun kekuasaannya lewat teror, tulis Samir al-Khalil dalam Republic of Fear, The Politics of Modern Iraq (1989). Nyaris selama berkuasa tak ada kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar, yang mampu menggoyangnya. Said Aburish dalam bukunya, Saddam Hussein: The Politic of Revenge (2000), menulis, Saddam adalah tokoh misterius; ia sekaligus dibenci dan dicinta. Dibenci karena ia rela membayar berapa pun besarnya harga yang harus dibayar demi kekuasaan. Dicinta karena ia berusaha membangun kemakmuran Irak dengan minyak. Di Dunia Arab, ia disanjung sebagai pemimpin yang berani berdiri berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Dialah yang membentuk "pasukan Jerusalem" untuk merebut Jerusalem dari tangan Israel. Impiannya untuk menyatukan Dunia Arab tak kesampaian karena nafsu kekuasaannya sendiri. Keinginannya menyejahterakan rakyatnya pun berantakan, juga karena nafsu kuasanya. Ia mengobarkan tiga perang besar: melawan Iran (1980-1988), invasi ke Kuwait (1990-1991), serta melawan AS dan sekutunya (2003). Irak kalah dalam ketiga perang itu. Upayanya mencari simpati Dunia Arab dengan mendukung kemerdekaan Palestina juga tidak berbuah. Sementara di dalam negeri, ia bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap orang- orang Kurdi dan kelompok Syiah yang memberontak. Joseph Wilson, seorang diplomat AS yang bertugas di Baghdad (1988-1991), menyebut Saddam sebagai "seorang sociopath. Ia selalu mengatakan Anda harus memerintah Irak dengan tangan besi dan ia melakukan hal itu." Sementara Rashid Khalidi, Direktur Middle East Institute di Columbia University, menyebut tokoh kelahiran 28 April 1937 di Desa Auja (ada yang menulis Al Awja atau Ouja), Tikrit, 160 km barat laut Baghdad, ini sebagai seorang "megalomania dan kejam".
Masa depan Irak
Apa pun komentar orang, ia tetaplah tokoh besar di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Ia dianggap sebagai tokoh yang mengumbar kekuasaannya. Tetapi, ia juga menjadi korban kekuasaan AS, tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Runtuhnya rezim Saddam (2003) membuat Irak seperti sapu lidi kehilangan suh atau tali pengikat. Irak terpecah-belah meski sebenarnya persatuan di Irak pada zaman Saddam dibangun dengan tangan besi sehingga menimbulkan iri hati dan kebencian sesama anak bangsa: antara Sunni, Syiah, dan Kurdi. Kini, setelah Saddam yang oleh AS dianggap sebagai "batu sandungan" disingkirkan, apakah persatuan dan kesatuan Irak dapat terwujud dan demokrasi seperti yang diinginkan Washington juga dapat segera direalisasikan? Sebuah pertanyaan besar. Bagi kelompok Sunni yang ketika Saddam berkuasa sangat diuntungkan (mereka ada di lingkaran dalam kekuasaan), eksekusi terhadap Saddam dapat dibaca sebagai contoh lain lagi bagaimana mereka kehilangan kekuasaan. Pembunuhan terhadap orang yang divonis bersalah bukanlah jalan untuk membangun keadilan dan rekonsiliasi masyarakat. Bisa jadi justru akan melahirkan risiko munculnya semangat balas dendam. Oleh karena eksekusi itu bisa dimaknai sebagai penyebaran benih-benih kerusuhan baru. Eksekusi terhadap Saddam akan berarti penghukuman kejahatan dengan kejahatan lain. Sebaliknya, bagi kelompok Syiah dan juga Kurdi, eksekusi atas Saddam adalah babak baru bagi Irak. Mereka berharap Irak akan segera bersatu menyongsong masa depannya meskipun hal itu bukan pekerjaan mudah. Oleh karena, Saddam sesungguhnya adalah "masa lalu", dan kini yang terjadi di Irak bukan semata-mata pertarungan antara kelompok pro dan anti-Saddam, tetapi pertarungan memperebutkan kekuasaan antara Syiah, Sunni, dan Kurdi yang sudah mendarah daging. Tampilnya kelompok Syiah di tampuk kekuasaan akan membuka jalan bagi lahirnya Negara Syiah Arab pertama (Iran adalah Syiah Persia) dan menandai kebangkitan Syiah. Hal itu yang kiranya akan menjadi persoalan besar bagi Sunni Arab. Di dalam pertarungan inilah masa depan Irak dipertaruhkan. Sementara Kurdi bisa menunggu "bola mentah" dan digulirkan menjadi modal bagi pembentukan negara sendiri, bila permusuhan sektarian terus terjadi di Irak. Era Saddam Hussein sudah selesai. (Berbagai sumber)
Ternyata, faktor genetik juga ikut andil dalam terjadinya perselingkuhan dan poligami. Dipercaya, mayoritas mahluk hidup memang lahir dengan bawaan tersebut. Nah lho!
Demikian dilansir softpedia, Senin (11/12/2006) kebanyakan mahluk hidup memang tidak terbiasa hidup bermonogami. Secara genetik, mayoritas mahluk hidup pun tidak diprogram untuk hidup monogami alias hidup dengan satu partner saja. Bahkan, dari sekitar 5500 jenis mamalia hanya 3-5% yang dikenal bisa hidup monogami.
Walau demikian, hampir tidak ada jenis mahluk hidup yang mengenal monogami murni. Walau beberapa mahluk hidup selalu diciptakan untuk berpasangan, pada kenyataannya tetap saja mereka tetap mencari kesempatan untuk 'keluar jalur' sesekali.
Terutama untuk beberapa jenis binatang, sulit sekali bagi mereka untuk tetap setia pada satu pasangan saja. Pejantan umumnya terbiasa untuk menyebarkan benih dan betina umumnya selalu berusaha mencari gen terbaik dari pejantan terbaik.
Dengan monogami, berarti mahluk hidup hanya bisa 'mengiventasikan' gen-nya pada satu partner saja. Karena itu, mahluk hidup yang menerapkan sistem ini biasanya sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk memilih pasangan potensialnya.
Dalam kehidupan mahluk hidup secara umum, terdapat tiga jenis monogami. Pertama monogami seksual; hanya melakukan aktivitas seksual pada satu partner saja selama satu musim kawin. Kedua, monogami sosial; mahluk hidup mempunyai satu pasangan untuk berkembang biak, tapi tetap memiliki partner lain untuk bersosialisasi dan juga beraktivitas seksual. Ketiga, monogami genetik; hanya memiliki satu partner untuk bereproduksi.
Teorinya, sebagai salah satu jenis mahluk hidup, manusia biasanya melakukan monogami seksual dan sosial. Mahluk hidup jenis lain, jarang yang melakukan hal ini.
Hampir semua jenis burung umumnya menganut gaya hidup monogami sosial. Masing-masing memiliki pasangan, tapi tetap melakukan aktivitas seks dengan partner lain. Dalam sebuah penelitian, burung betina yang dipasangkan dengan pejantan yang telah disteril masih bisa tetap menghasilkan telur baru.
Burung merpati yang dianggap sebagai simbol kesetiaan saja masih bisa tidak setia, apalagi angsa yang kerap identik dengan simbol cinta. Spesies jenis ini juga kerap berselingkuh bahkan 'bercerai' dengan pasangannya.
Beberapa jenis mahluk hidup yang cukup setia dianggap punya dasar-dasar biologis dan sosial. Misalnya saja vole atau sejenis tikus. Vole pejantan akan setia pada betina yang diperawaninya. Jika betina lain mendekatinya, vole pejantan akan langsung menyerang.
Burung Nasar juga termasuk mahluk hidup yang setia. Alasannya karena pola reproduksi mereka. Pasangan burung Nasar bergantian mengerami telur mereka. Masing-masing bertugas selama 24 jam. Selama delapan bulan awal kelahiran bayi burung Nasar, ayah dan ibunya bergantian memberi makan. Karena itu ikatan pasangan pada burung Nasar cukup kuat.
Sama seperti berang-berang. Untuk mempertahankan kolam atau tempat mereka tinggal, berang-berang memerlukan kerjasama yang kuat dari betina dan pejantan. Karena itu, ikatan sosial pasangan berang-berang sangatlah kuat.
Intinya, monogami akan terjadi jika mahluk hidup merasa memerlukan situasi yang membuat pasangan harus tetap bersama. Dipercaya, manusia sejak dahulu hidup bermonogami karena membutuhkan komitmen dan kerjasama yang panjang untuk membesarkan keturunannya serta membangun keluarga. Tapi untuk kehidupan seksual binatang, monogami adalah sesuatu yang sangat membosankan. Jadi?...
" Lelaki Kecil dari Kota Kecil di Sudut Kalimantan bagian Timur, Suami dan Ayah dari seorang isteri dan dua orang titipanNYA. Saya hanya manusia biasa yang berusaha menggunakan hati,pikiran dan rasa dalam meniti hidup yang semakin tidak jelas ini sehingga semua yang ada di dalam halaman ini hanyalah wujud dari berfungsinya ketiga elemen itu. "