 Dalam beberapa hari terakhir wilayah Jakarta dan sekitarnya kembali dilanda wabah flu burung. Masyarakat pun ramai membicarakan flu burung yang telah nyata-nyata menelan korban manusia. Informasi ihwal penularan flu burung (avian influenza, bird flu) masih terbatas sehingga masyarakat belum sepenuhnya paham bagaimana virus H5N1 (penyebab flu burung) menulari manusia. Virus ini masih kerabat dekat virus influenza A, dan sama-sama ditularkan lewat udara (airborne). Virus flu burung terbang ke udara di sekitar lokasi tempat unggas berpenyakit berada. Virusnya mungkin berasal dari kotorannya, liurnya, wadah makanan dan air minumnya, kandang, dan semua permukaan tanah yang dicemarinya. Itu sebab, ketika awal serangan flu burung, yang pertama-tama tertular hanyalah mereka yang berada berdekatan dengan kandang atau pasar unggas yang sudah berpenyakit ini. Airborne Infection Penularan secara airborne berarti manusia menghirup udara yang sudah mengandung virus ke dalam saluran pemapasannya. Kita tidak tahu, dan tidak pula merasa saat menghirup udara bervirus flu burung. Namun, harus diwaspadai kalau udara di sekitar lokasi yang sudah dijangkiti flu burung berisiko sudah tercemar virusnya. Selain itu penularan juga dapat terjadi secara kontak langsung lewat tangan. Kontak langsung dengan menyentuh, memegang, atau bersinggungan dengan semua yang sudah tercemar virus, termasuk saat berkontak dengan unggas atau telurnya. Dengan cara itu virus mencemari tangan, tubuh, dan segala yang dikenakan manusia. Bila tangan manusia yang sudah tercemar virus tidak dibasuh dan kemudian berkontak dengan liang hidungnya sendiri, dengan cara demikian virus flu burung yang sudah mencemari tangan bisa memasuki saluran pemapasan juga. Namun, tidak ada bukti bahwa dengan cara menelan, manusia akan tertular virusnya.
Dulu, di awal-awal penyakit flu burung menyerang, masih diragukan kemungkinan penularan virus antarmanusia. Namun belakangan semakin bermunculan kasus akibat penularan manusia-manusia, bukan saja dengan cara unggas ke manusia belaka. Dan ini yang diresahkan banyak orang.
Mengapa?
Karena bila penularan terbatas dari unggas ke manusia saja, lebih mudah mengisolasi unggas berpenyakit agar tidak mendekat kepada lingkungan manusia. Caranya, dengan mengatur keluar masuknya unggas dari peternakan berpenyakit.
Namun, tidak demikian jika manusia sendiri yang sudah terjangkit. Kita tahu manusia sendiri lebih mobil, lekas berpindah tempat, dan sukar dikendalikan dibanding unggas sekiranya -- sudah terjangkit. Itu berarti cakupan wilayah penularan dari- manusia ke manusia lain jauh lebih cepat menyebar.
Batuk dan Bersin
Penularan melalui udara atau airborne berarti ada virus yang ditumpahkan oleh pengidap virusnya ke udara lewat batuk, bersin, dan bercakap-cakap. Kendati unggas, termasuk burung beo sekalipun, tidak batuk atau bersin, penularan dapat terjadi lewat napasnya, selain lendir dan kotorannya.
Selama musim flu burung berjangkit, memelihara burung, bermain di pasar burung, atau memàsuki lokasi yang tercemar virus flu burung, berisiko tertular bila kita tidak melindungi diri dengan memakai masker khusus (kedap virus), bersarung tangan, dan pelindung mata.
Kita menyaksikan di televisi, rata-rata pekerja di peternakan ayam yang sedang membuang ayam mati akibat flu burung nyatanya tidak berpelindung, padahal mereka berisiko tertular. Bukan saja tubuh dan pakaian yang dikenakannya, melainkan juga mobil pengangkutnya, wadah telurnya, dan termasuk sepatu dan tempat peternakannya, semua berisiko tercemar virus yang siap dibawa kemana saja jika tidak ada larangan mengisolasinya. Di negara-negara terjangkit flu burung, misal Thailand, semua kendaraan yang berasal dari wilayah terjangkit flu burung dilarang masuk ke wilayah yang belum terjangkit. Termasuk menjaga ketat lalu lintas manusia dan ternak yang dicurigai sudah tercemar. Jangan lupa, kotoran burung bervirus yang mengering di permukaan tanah akan terbang bersama udara di sekitarnya, dan siap dihirup oleh manusia di sekitarnya. Atau bila tangan manusia berkontak dengan kotoran burung bervirus itu masuk ke liang hidungnya sendiri sebelum membasuhnya. Itu sebab kebiasaan membasuh tangan amatlah vital dalam upaya mencegah penularan.
Atau bisa pula terjadi tubuh manusia yang sudah berkontak dengan kotoran burung di alas kakinya lalu membawanya memasuki lantai pekarangan atau lantai rumahnya. Dengan cara demikian virus flu burung terbawa memasuki lingkungan manusia yang paling dekat.@
|