
Ada pengalaman menarik hari ini ( sebetulnya tidak seberapa menarik karena ini adalah reduplikasi semata )
Ceritanya karena sesuatu hal maka hari ini saya harus ke Bank- BNI - , sambil menunggu antrian iseng-iseng saya tanya CS cewek yang di tag name nya bernama Andi, pikiran saya ini cewek pasti orang Bugis atau setidaknya punya darah Bugis karena Andi ( dalam pikiran saya ) adalah gelar kebangsawanan Bugis, apalagi dia cewek ( mana ada cewek namanya Andi tanpa embel-embel bangsawan tadi ) dan ternyata betul dia orang Bone yang lahir dan besar di Kalimantan, saya pun cerita kalau saya orang Bugis, dengan mimik heran diapun tertawa ” ah, bapak becanda dari namanya aja pasti Bapak Orang Jawa, Heru Hastowo itu nama jawa pak!” Dengan setengah memaksa saya yakinkan dia bahwa saya orang bugis cuman kebetulan bapak saya orang jawa!
Sepenggal cerita di atas sudah berulang-ulang kali saya alami, pun ketika teman-teman saya yang tahu kalo saya dari Makassar setengah mengejek ” orang Bugis kok pake nama Jawa ” , Bapak saya Orang Jawa makanya dikasi nama Jawa ” ooooo, begitu”. Pertanyaan yang paling saya benci adalah : Heru, orang apa ? Bagaimana saya harus menjelaskan? Terkadang ( selalu ) saya lebih senang mengaku sebagai orang Bugis atau Orang Toraja ( Tanah Leluhur Ibu saya ) ketimbang sebagai orang Jawa , pertama, saya lahir dan besar tidak di Jawa, kedua, saya lebih ”dekat” secara emosional kepada kebudayaan orang sulawesi pada umumnya daripada Jawa, saya sangat memahami adat-istiadat, norma dan budaya yang melingkupi kehidupan orang celebes. Ketiga, saya tidak suka mengaku sebagai orang Jawa ( walopun secara Patrilinear saya adalah Orang Jawa ) karena secara sosiopolitik pertama : tidak ada hal yang bisa mendekatkan saya secara emosional ( juga ) pada kultur jawa walopun banyak hal yang saya pahami tentang itu katakanlah jargon dan ”tetekbengek” ke-jawa-an. Kedua : saya sedikit ”trauma” dengan apa yang menurut saya sebagai Proses Jawanisasi ( maaf, saya tidak bermaksud primordialistik meskipun kalo kita berbicara ”kamu orang apa?” sesungguhnya kita telah masuk ke wilayah primordial ) oleh Pak Harto dengan Program Transmigrasi yang menurut saya adalah proses jawanisasi indonesia dengan dalih pemerataan pembangunan, distribusi penduduk, perbaikan taraf hidup, menghidupkan lahan mati menjadi lahan pertanian dan dalih-dalih lainnya padahal menurut saya ( selalu menurut saya karena ini adalah murni pendapat pribadi, maaf kalo ada yang kurang berkenan ) semua ini sesungguhnya adalah cara Eyang mempertahankan kekuasaannya, dengan orang jawa di mana-mana maka dengan mudah beliau ”memasarkan” jargonjargon pembangunannya seperti Jer Basuki Mawa Beya ( setiap kesuksesan butuh pengorbanan ) maka diambillah tanah-tanah rakyat tanpa ganti rugi sepeserpun untuk jalan raya, perkantoran atau untuk kepentingan lain. Dan hal ini sangat dipahami dan diterima oleh orang jawa, bagaimana misalnya dengan bukan orang jawa ? Tentu jargon ini tidak laku. Dengan orang jawa menyebar di sulawesi, kalimantan dan sumatera maka secara tidak langsung semua bisa ”termakan mentah-mentah” .
Sekali lagi postingan ini tidak bermaksud apa-apa karena sifatnya hanya pandangan pribadi dan tetap dalam ”Kerangka NKRI” dan tetap dalam semangat Ke-bhinneka Tunggal Ika-an( meminjam istilah SBY ) dan jika sedikit menyikut ”orde baru” ini hanyalah trauma masa lalu dan bentuk dari sisa-sisa perjuangan ( begini begini saya ikut andil melengserkan eyang dengan serangkaian demonstrasi Tahun 1998 ) . Maka mulai sekarang JANGAN TANYA SAYA ORANG APA? Semoga anak saya pun nantinya tidak bingung jika mendapat pertanyaan serupa karena di darahnya mengalir darah Jawa, Bugis, Enrekang dan Toraja ( Nah Lho......... ) |