 Rasa Kemanusiaan saya tergugah, saya sedih, saya menangis..............
"Ya Allah," gumam Saddam Hussein lirih menjelang saat-saat akhir hidupnya di tiang gantungan. Hari Sabtu, 30 Desember 2006, sebelum fajar menyingsing di sekitar Baghdad, berakhirlah sudah hidup Saddam Hussein (69).
Hanya dalam hitungan sepuluh detik, nyawa meninggalkan raganya. Inilah lembaran terakhir mantan orang kuat di Irak yang berkuasa sejak tahun 1979 hingga 2003. Kekuasaan yang pernah dipegangnya selama tiga dasawarsa itu tidak ada artinya lagi. Gelar "Singa dari Babilon" yang pernah disandangnya, juga tinggal kenangan. Impiannya untuk menyejajarkan dirinya dengan raja agung zaman Babilonia, Nabukadnesar, yang pernah menaklukkan Jerusalem, tetaplah impian. Begitu pula keinginannya mengulang kehebatan pemimpin akbar Timur Tengah, sang penakluk Jerusalem, Sultan Salah al-Din Yusuf ibn Ayyub atau Saladin (1137-1193), tinggallah cerita. Saddam Hussein justru seperti mantan Presiden Afganistan Najibullah dan mantan Perdana Menteri Pakistan Ali Bhutto. Ketiganya dihukum gantung. Najibullah digantung di depan pintu gerbang istana kepresidenannya oleh anak-anak dan para korban kekuasaannya (1987-1992). Hidup Ali Bhutto diakhiri oleh lawan-lawan politiknya di bawah pimpinan Zia ul-Haq, tahun 1979. Dan, akhir pekan lalu, Saddam dihukum gantung setelah pengadilan pada tanggal 5 November 2006 memvonis hukuman mati. Ia dinyatakan bersalah karena memerintahkan pembunuhan massal terhadap 148 orang pada tahun 1982 di Dujail. Keputusan pengadilan itu dikuatkan oleh pengadilan banding, 26 Desember 2006. Apakah "akhir garis hidup" Saddam memang harus lewat hukuman mati? Sekitar 40 tahun silam, 25 Februari 1960, Saddam pernah dijatuhi hukuman mati in absentia karena terlibat dalam usaha kudeta gagal terhadap pemimpin Irak saat itu, Jenderal Aldul Karim Qassim.
Seorang pemimpi
Buku Saddam Hussein telah ditutup. Hanya saja kisahnya tidak ditutup dengan akhir yang bahagia, tapi sebuah ironi. Walaupun Saddam mengatakan, "Inilah akhir hidupku. Saya mengawali hidupku sebagai pejuang karena itu kematian tidak menakutkanku", seperti disiarkan jaringan televisi CNN dan BBC. Seakan kisah hidup Saddam membenarkan ujar-ujaran "siapa yang merebut kekuasaan dengan pedang akan jatuh oleh pedang pula". Saddam menapaki karier politiknya hingga ke puncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas Presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun 1979. Ketika kekuasaan sudah di genggamannya, ia bermimpi untuk menyatukan seluruh Dunia Arab sebagai "Singa dari Babilon". Ia berusaha menjadi pemimpin Arab yang tiada tandingannya. Di dalam negeri ia membangun kekuasaannya lewat teror, tulis Samir al-Khalil dalam Republic of Fear, The Politics of Modern Iraq (1989). Nyaris selama berkuasa tak ada kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar, yang mampu menggoyangnya. Said Aburish dalam bukunya, Saddam Hussein: The Politic of Revenge (2000), menulis, Saddam adalah tokoh misterius; ia sekaligus dibenci dan dicinta. Dibenci karena ia rela membayar berapa pun besarnya harga yang harus dibayar demi kekuasaan. Dicinta karena ia berusaha membangun kemakmuran Irak dengan minyak. Di Dunia Arab, ia disanjung sebagai pemimpin yang berani berdiri berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Dialah yang membentuk "pasukan Jerusalem" untuk merebut Jerusalem dari tangan Israel. Impiannya untuk menyatukan Dunia Arab tak kesampaian karena nafsu kekuasaannya sendiri. Keinginannya menyejahterakan rakyatnya pun berantakan, juga karena nafsu kuasanya. Ia mengobarkan tiga perang besar: melawan Iran (1980-1988), invasi ke Kuwait (1990-1991), serta melawan AS dan sekutunya (2003). Irak kalah dalam ketiga perang itu. Upayanya mencari simpati Dunia Arab dengan mendukung kemerdekaan Palestina juga tidak berbuah. Sementara di dalam negeri, ia bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap orang- orang Kurdi dan kelompok Syiah yang memberontak. Joseph Wilson, seorang diplomat AS yang bertugas di Baghdad (1988-1991), menyebut Saddam sebagai "seorang sociopath. Ia selalu mengatakan Anda harus memerintah Irak dengan tangan besi dan ia melakukan hal itu." Sementara Rashid Khalidi, Direktur Middle East Institute di Columbia University, menyebut tokoh kelahiran 28 April 1937 di Desa Auja (ada yang menulis Al Awja atau Ouja), Tikrit, 160 km barat laut Baghdad, ini sebagai seorang "megalomania dan kejam".
Masa depan Irak
Apa pun komentar orang, ia tetaplah tokoh besar di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Ia dianggap sebagai tokoh yang mengumbar kekuasaannya. Tetapi, ia juga menjadi korban kekuasaan AS, tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Runtuhnya rezim Saddam (2003) membuat Irak seperti sapu lidi kehilangan suh atau tali pengikat. Irak terpecah-belah meski sebenarnya persatuan di Irak pada zaman Saddam dibangun dengan tangan besi sehingga menimbulkan iri hati dan kebencian sesama anak bangsa: antara Sunni, Syiah, dan Kurdi. Kini, setelah Saddam yang oleh AS dianggap sebagai "batu sandungan" disingkirkan, apakah persatuan dan kesatuan Irak dapat terwujud dan demokrasi seperti yang diinginkan Washington juga dapat segera direalisasikan? Sebuah pertanyaan besar. Bagi kelompok Sunni yang ketika Saddam berkuasa sangat diuntungkan (mereka ada di lingkaran dalam kekuasaan), eksekusi terhadap Saddam dapat dibaca sebagai contoh lain lagi bagaimana mereka kehilangan kekuasaan. Pembunuhan terhadap orang yang divonis bersalah bukanlah jalan untuk membangun keadilan dan rekonsiliasi masyarakat. Bisa jadi justru akan melahirkan risiko munculnya semangat balas dendam. Oleh karena eksekusi itu bisa dimaknai sebagai penyebaran benih-benih kerusuhan baru. Eksekusi terhadap Saddam akan berarti penghukuman kejahatan dengan kejahatan lain. Sebaliknya, bagi kelompok Syiah dan juga Kurdi, eksekusi atas Saddam adalah babak baru bagi Irak. Mereka berharap Irak akan segera bersatu menyongsong masa depannya meskipun hal itu bukan pekerjaan mudah. Oleh karena, Saddam sesungguhnya adalah "masa lalu", dan kini yang terjadi di Irak bukan semata-mata pertarungan antara kelompok pro dan anti-Saddam, tetapi pertarungan memperebutkan kekuasaan antara Syiah, Sunni, dan Kurdi yang sudah mendarah daging. Tampilnya kelompok Syiah di tampuk kekuasaan akan membuka jalan bagi lahirnya Negara Syiah Arab pertama (Iran adalah Syiah Persia) dan menandai kebangkitan Syiah. Hal itu yang kiranya akan menjadi persoalan besar bagi Sunni Arab. Di dalam pertarungan inilah masa depan Irak dipertaruhkan. Sementara Kurdi bisa menunggu "bola mentah" dan digulirkan menjadi modal bagi pembentukan negara sendiri, bila permusuhan sektarian terus terjadi di Irak. Era Saddam Hussein sudah selesai. (Berbagai sumber)
|