.:Lelaki Kecil dari Kota Kecil:.

Segala yang kudengar, kurasa, dan kulihat ........

 

Heru Hastowo
Allahumma inni As-alukaa ridhaaka wal jannah ...
Afiliasi

Free Blogger Templates

BLOGGER

Prasmanan Agama
Monday, February 12, 2007
Beberapa waktu lalu, majalah Der Spiegel Jerman membuat laporan tentang perkembangan agama di Barat (Eropa dan Amerika). Laporan itu antara lain mengatakan bahwa agama di Barat pada dasarnya tak mengalami kemunduran, tapi bermetamerfosa menjadi lebih individualistik dan makin kurang ketergantungannya pada sistem gerejawi dan kependetaan.
Sejarawan Prancis, Paul Veyne, mensifati metamerfosis itu sebagai pergeseran dari pola kepenganutan agama sebagai menu lengkap yang utuh menjadi à la carte atau prasmanan. Di situ, setiap orang berhak memilih Tuhan atau sekte keagamaan yang paling mereka minati. Dengan kata lain, kecenderungan beragama masyarakat Barat makin menyerupai penyikapan terhadap hidangan makanan prasmanan.
Secara primordial, agama bagi tiap-tiap individu adalah prasmanan. Bahkan, setelah menu baku diracik para koki agama, unsur-unsur prasmanan itu mustahil hilang. Sejak beberapa tahun terakhir, orang-orang mulai makin terbuka menyatakan keprasmanan itu bagi diri dan kelompoknya.
Cover story Newsweek beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa di Amerika, tiap hari muncul agama baru, dianut orang per orang. Dalam kenyataannya, di India pun ada ribuan agama. Hinduisme memang memungkinkan sektarianisasi semacam itu dengan damai.
Tapi belakangan muncul kelompok-kelompok yang berusaha memurnikan Hinduisme--tentu dengan asumsi bahwa yang murni itu ada dan pemurnian adalah mungkin. Mereka membikin partai politik. Tapi proses individualisasi (atau sektarianisasi) beragama tampaknya jalan terus.
Di sana—dan mestinya juga di tempat lain–membikin agama tampak gampang sekali: memelihata jenggot panjang, pakai jubah agak unik, kasih petuah agak aneh (dimulai dengan kritik terhadap ajaran-ajaran lama yang sudah mapan tanpa didekonstruksi habis agar tak digeruduk oleh macam-macam front pembela Tuhan).
Rumusnya jelas. Perangkat yang diperlukan antara lain kitab suci (bisa racikan dari semua kitab suci yang sudah ada plus sejumlah filosofi dan kreativitas pribadi; lalu diedit yang bagus). Perlu juga rumah ibadah dengan arsitektur yang khas. Pakaian resmi para petinggi, penetapan hari besar, pola ritual yang sederhana, penetapan sejumlah gelar (bagi ketua, wakilnya, para "capo", dan umat biasa), juga penting.
Jadilah agama baru itu. Soal detail-detail dan apakah akan dianut orang, disusul kemudian. Yang penting: unsur-unsur utamanya sudah tersusun. Dengan semua pembakuan itu pun, yang bertindak selalu pendiri agama tetap punya prasmanannya sendiri, yang sedikit-banyak beda racikannya dari menu para pengikutnya.
Masalahnya: kebanyakan orang tak berani (karena merasa tak mampu dlsb) membuat racikan sendiri yang sesuai selera spiritual masing-masing. Bagi mereka, ini a highly risky business, karena menyangkut keselamatan dunia-akhirat, kesesuaian dengan norma sosial, dan lain sebagainya.
Tapi karena selalu tersedia pasar yang dahaga spiritualitas, maka para makelar agama (penghubung individu dengan Tuhan) akan terus ada. Begitulah kesimpulan Norris & Inglehart itu. Para makelar inilah yang terus memupuk kepercayaan bahwa manusia, apalagi yang bodoh dan miskin, tak akan sanggup berhubungan sendiri dengan Tuhan.
Dalam kasus Katolik, mesin pemupuk dogma itu dilembagakan lewat gereja, struktur piramidal yang berpuncak di Vatikan. Islam mengklaim dan bangga sebagai agama yang tak kenal sistem kerahiban. Tapi dalam praktik, para petinggi Islam kadang juga berpretensi serupa; merasa berhak (sekaligus wajib!) menerbitkan daftar do's dan don't's bagi penganut Islam, tentu lewat otoritas kitab suci dan ajaran Nabi.
Namun dalam kehidupan spiritual, selalu ada individu-individu yang menampik rekayasa spiritual seperti itu. Tapi sejauh ini, mereka harus menyendok prasmanan agamanya sendiri secara diam-diam, sembunyi-sembunyi. Para nabi pun memulai karirnya dengan aksi subversif. Lama-lama, subversi mereka jadi versi, lalu terjadilah silang sengkarut—yang belum tentu mereka kehendaki—bahkan antara orang-orang yang mengaku pengikut nabi yang sama.
Semuanya saya kira bersumber dari salah satu kebijaksanaan Tuhan yang tak kunjung saya pahami: mengapa Dia memberi petunjuk tentang kehidupan (sesuatu yang sangat penting agar kita menjalaninya dengan manusiawi) hanya pada satu orang di setiap masa dan tempat.
Masalahnya mungkin jauh lebih sederhana kalau rahasia ajaran penting itu disampaikan di, misalnya, panggung pembukaan World Cup, ketika bermiliar manusia menyimaknya. Lalu semua penyimak pulang ke rumah masing-masing dengan lega, dengan keyakinan gamblang tentang apa yang benar dan salah. Setelah itu, mereka bisa menyendok dengan damai santapan rohani hasil racikan pribadi prasmanan masing-masing—kalau memang mereka masih memerlukannya.
Dengan begitu, mereka mustahil menganggap menu pribadinyalah yang paling nikmat dan sehat. Jumlah meja prasmanan memang akan sebanyak jumlah individu penganut agama itu. Proliferasi memang tak terhindar, bahkan setelah Ten Commandments diumumkan di pentas World Cup itu. Tapi, apa yang salah dengan jumlah prasmanan yang sangat besar itu?
"Ada yang salah," kata para broker dan ”public relation” Tuhan. "Kalau itu terjadi, bukan hanya penghasilan kami yang terampas, tapi juga prestise, privilese, tangga sosial, juga tangga mobilitas vertikal kami." Setidaknya begitulah implikasi dari kesimpulan studi Norris & Inglehart.
posted by Heru Hastowo @ 2:02 PM   0 comments
Universalitas Valentine

Tanggal 14 Februari adalah hari yang dinanti-nantikan oleh para kawula muda di seluruh dunia. Pada hari itu, para remaja biasanya merayakan Hari Valentine, suatu hari di mana digunakan sebagai momen penting untuk menumpahkah kasih sayangnya kepada orang yang dicintai. Ada bunga, kado, sampai pesta mewarnai perayaan hari itu. Tidak heran bila Hari Valentine ditunggu-tunggu orang, khususnya kaum muda, sepanjang tahun.

Perayaan Hari Valentine juga identik dengan kartu, gambar hati, warna merah muda dan Cupid (malaikat kecil bersayap yang selalu membawa panah asmaranya ke mana-mana). Dia sering dipakai untuk lambang cinta di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut mitologi Romawi, Cupid adalah anak laki-laki Dewa Venus, dewa cinta dan kecantikan. Mungkin kita banyak yang tidak mengetahui asal-usul dan latar belakang perayaan Hari Valentine. Kapan sebenarnya perayaan ini dimulai? Asal-usulnya? Apa sesungguhnya yang dikabarkan Valentine buat kita? Kalaupun kita terlibat dalam perayaan setidaknya kita bukan hanya sebagai penggembira yang tidak memahami makna Valentine.

Selama ini, orang mengenal Valentine sebagai suatu budaya yang lahir dari Roma dan secara perlahan-lahan menjadi budaya milik dunia, tak terkecuali Indonesia. Awalnya pada 15 Februari sekitar abad ke-4 SM diadakan festival bangsa Roma yang disebut Lupercalis untuk memuja Dewa Lupercus, dewa pelindung tanaman obat dan hasil bumi. Pada malam sebelum festival, para pemuda Roma akan mencari pasangan mereka selama festival hingga pesta Lupercalia berikutnya. Mereka saling bertukar hadiah. Para wanita akan menerima sarung tangan harum atau perhiasan mahal. Tidak jarang mereka berhubungan asmara hingga satu tahun, jatuh cinta dan akhirnya menikah. Setelah berlangsung selama 800 tahun, gereja di Roma menentang perayaan tersebut, dan belakangan uskup dari Interamna yang bernama Valentine memulai kembali kebiasaan tersebut dengan cara yang berbeda.

Setelah Roma dikristenkan, para rohaniwan menggeser sehari ke belakang, dari yang sebelumnya 15 Februari menjadi 14 Februari sebagai hari kasih sayang, Hari Valentine. Hal ini dimaksudkan sebagai tanda untuk memperingati dua orang martir. Nama Valentino yang pertama dihukum mati oleh Kaisar Claudius II pada 14 Februari 270 M. Sang Kaisar menganggap bahwa bala tentaranya akan makin besar dan kuat jika mereka tidak menikah, sehingga melarang pria untuk menikah dan tinggal bersama keluarga. Seluruh pertunangan dan perkawinan di seluruh Romawi dibatalkan demi memperkuat militernya.

Saat itu, Uskup Valentine (seorang pastor) bersama dengan Uskup Marius dan para martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan, Uskup Valentine ditangkap dan dipenjarakan (lihat boks). Akhirnya ia dihukum, dipukuli dengan tongkat, dilempari batu, dan dipenggal kepalanya hingga tewas.

Hukuman ini terjadi pada 14 Februari 270 M ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia, yang jatuh pada 15 Februari. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan Uskup Valentine serta menghormati tradisi rakyat, maka para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine. Sedangkan Valentino yang kedua adalah seorang bishop dari Interamna (Terni modern). Dua martir ini lalu diberi gelar santo karena pengorbanannya --santo pelindung bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Hingga pada 469 M, Paus Gelasius mengumumkan setiap tahun pada 14 Februari sebagai Hari Valentine.

Kisah Asmara Valentine


Pada bulan musim semi, burung-burung mulai mencari pasangan dan Dewa Cupido, dewa berbentuk anak kecil bersayap, mulai mengarahkan anak panahnya pada hati muda-mudi.

Sebelum Valentine ditangkap, ia suka memberikan bunga di tamannya pada anak-anak. Saat ia berada di dalam penjara, berbondong-bondong anak-anak mengunjunginya, melempar sejumlah besar bunga segar ke ruang tahanannya. Selama dalam kurungan itu pula, ia berhasil menyembuhkan mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang teguh dan kasihnya yang besar. Valentine jatuh cinta lalu secara kontinyu menulis surat cinta pada sang gadis. Sebelum ia menghadapi saat terakhirnya, sepucuk surat terakhir yang ditandatanganinya, ia tuliskan sebuah kalimat "From Your Valentine" kepada gadis itu. Sebuah ekspresi kasih sayang yang hingga sekarang digunakan banyak orang. Setelah Valentine meninggal, di atas makamnya, tumbuh sebatang pohon ginko warna pink yang berdaun lebat, melambangkan cinta yang abadi.

Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari Valentine. Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang dipenjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

Kisah Valentine merupakan tragedi yang berhubungan antara hidup dan mati. Kisah kasih sejati yang bisa terekspresi oleh siapa pun. Setragis kisah Valentine, kisah tentang sebuah tindakan yang menggemparkan seluruh penjuru yang dilakukan oleh Zhen Xueli, seorang istri terpidana mati. Setelah divonis mati karena kesilapan membunuh orang, ia memohon pengadilan sipil tingkat dua setempat untuk memiliki anak dari sang suami dengan cara inseminasi buatan sebagai sebuah bukti cintanya, dan sekaligus agar dapat menghibur kepedihan sang mertua. Namun, harapannya akhirnya putus di tengah jalan. Tepat pada 18 Januari, untuk selama-lamanya Zheng Xueli kehilangan orang yang dicintainya. Orang yang dicintainya itu telah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, dan untuk selama-lamanya dengan terpaksa meninggalkan kekasih dan keluarganya.

Mungkin ketika para pasangan sekarang sibuk membeli bunga dan cokelat, tanpa mengetahui makna Hari Valentine dan nilai nilai di balik sejarah Valentine. Tidak mengherankan, apabila di zaman yang dimabukkan oleh dekadensi moral yang mengkhawatirkan, sejarah telah dilupakan hingga pelita hancur seiring dengan renungan dan perasaan di dalam sanubarinya. Valentine membuat Hari Valentine, memberi tahu pada kita, bahwa cinta adalah suatu perasaan yang murni dan berharga. Sebuah hari besar dan makna cinta yang dikandungnya didapat dari seseorang yang mengorbankan jiwanya untuk kita.

Di zaman sekarang ketika Hari Valentine telah sepenuhnya menjadi perdagangan, hingga sejumlah besar orang Amerika tidak mengetahui di balik kepedihan Hari Valentine. Jadilah 'From Your Valentine' bisa sesukanya diucapkan, dan telah dianggap sebagai suatu mode. Seperti halnya di China sekarang, ada sejumlah besar orang, bagaimana secara kreatif memanfaatkan Hari Valentine, bermain dengan apa yang disebut permainan percintaan, memainkan acara sebagai orang ketiga dengan riang gembira, Hari Valentine berubah menjadi hari besar kekasih diluar istri. Ada berita mengatakan, bahwa sekitar 30% orang yang berkunjung ke Hongkong, pada saat Hari Valentine merasa menyesal karena tidak dapat mendampingi beberapa kekasih secara bersamaan. Di RRC, mungkin juga mempunyai jumlah yang sama atau mungkin lebih banyak lagi orang merasakan kerisauan yang sama, tanpa mengetahui bagaimana perasaan Valentine di atas sana jika mengetahuinya.

Tanpa mempermasalahkan asal-usul Hari Valentine, terkandung makna yang diakui banyak orang, baik yang merayakan atau tidak, bahwa cinta dan kasih sayang patut kita pupuk sepanjang masa. Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong kehidupan lebih bergairah dan harmonis. Ada yang sedang romantis mempersembahkan bunga, ada yang saling mempercayakan seumur hidupnya, ada yang berjanji dengan setulusnya, dan ada juga yang diam-diam sendirian meneteskan air mata. Ada yang berkorban demi cinta sejati, ada juga yang mempermainkan cinta. Sementara ginko pink di atas makam Valentine mekar sendiri, demi perasaan cinta yang sejati dan murni manusia sebagai dasar persembahan cinta.
posted by Heru Hastowo @ 8:28 AM   0 comments
Botak? Rajin Minum Kopi Dong
Friday, February 09, 2007

Masalah kebotakan sering terjadi pada pria. Semakin umur menua, kebotakan biasanya tak bisa dihindari lagi. Tapi sebuah penelitian telah menemukan solusi terbaru untuk mengatasi masalah ini. Anda hanya harus rajin minum kopi. Apakah berhasil?

Para ilmuwan dari Universitas Jena di Jerman meneliti biospsi kulit kepala dari 14 pria yang berada pada tingkat awal kebotakan. Sari kantung rambut diambil dan diletakkan di kantong tes yang telah isi dengan tingkat kafein yang berbeda.

Rupanya kafein yang banyak terkandung dalam kopi jadi kunci penting. Nah, contoh sari rambut yang diberi kafein ini kemudian diteliti selama 8 hari. Pertumbuhannya di monitoring dan kemudian diperoleh kesimpulan baru.

Kafein terbukti bisa menambah pertumbuhan rambut sebanyak 33% hingga 40%. Tes lain yang mengendapkan sari rambut dengan testoteron menunjukkan pertumbuhan yang amat sangat lambat. Ternyata sari rambut yang diberikan kafein menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan selama 24 jam dan terus menunjukkan kemajuan yang signifikan setelah 8 hari. Para peneliti percaya bahwa kafein bisa mempengaruhi sel rambut dalam berbagai cara dan kafein sanggup menghambat efek kerusakan yang disebabkan oleh dihydrotestosteron (DHT). DHT adalah zat yang yang menyebabkan kebotakan.

Proses singkatnya adalah ketika sari rambut kelebihan DHT, maka rambut akan rontok dan kebotakan pun terjadi. Nah, jika Anda mengalami kebotakan ada baiknya Anda jadi rajin minum kopi yang mengandung banyak kafein.

Namun dosisnya juga harus diperhatikan. Jangan terlalu berlebihan. Karena selain punya banyak nilai positif, kafein ternyata bisa menimbulkan rasa gelisah, detak jantung tak stabil, insomnia, sakit kepala dan banyak lagi
posted by Heru Hastowo @ 9:07 AM   0 comments
Shalimar De Clown - Terbukanya kedok Sang Badut
Tuesday, February 06, 2007
Dalam Novel terbarunya Salman Rushdie menentang Terorisme atas nama Islam

Dalam novel kuat terbarunya, Salman Rushdie membidikkan panahnya pada kaum fundamentalis terutama mereka yang bermukim di Kashmir. Benarkah motif teroris dalam mitologi yang berkembang diantara kaum fundamentalis di Kashmir benar-benar murni berdasar perintah Tuhan atau malah bersifat pribadi dan berasal dari sisi gelap sifat manusia.

Di manakah kita bisa menemukan novel tentang terorisme Islam, motif mereka, lingkungan di mana mereka tumbuh dan menjadi radikal? Pertanyaan penting ini baru saja dikemukakan oleh Graham Bowley selaku kolumnis tamu dalam surat kabar International Herald Tribune (11/8). Padahal, Sastra mampu mengajar kita tentang bagaimana memahami orang lain secara internal. Dan setelah serangan bom di London, setiap keping pemahaman tentang apa dan bagaimana pelaku teror senantiasa disambut. Oleh karena itu Bowley melakukan kajian terhadap setumpuk karya multikultural yang diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir, seperti White Teeth oleh Zadie Smith dan Bricklane oleh Monica Ali. Namun akhirnya ia harus berkesimpulan bahwa novel-novel tersebut, bahkan dalam tataran optimistik, hanya mengajarkan sedikit tentang dunia yang murka setelah serangan London.

Jadi di manakah sastra ala Balzacs dan Dostoyevski untuk menjelaskan jihad di seluruh penjuru dunia? Bowley kini bisa memakai novel Salman Rushdie untuk pertanyaan tersebut, oleh karena tempo hari Belanda mendapat kehormatan untuk menerbitkan edisi Eropa perdana Shalimar De Clown, yang bagian pentingnya ditujukan untuk menjawab pertanyaan Bowly : apa motif pelaku teroris?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Rushdie tiba tepat pada waktunya. Namun ia bukanlah yang pertama. Terorisme Islam telah muncul dalam berbagai novel. Yang paling terkenal (juga yang terbaik) adalah novel Platform oleh Michel Houellebecq (seorang novelis Perancis), sebuah novel yang ‘memuja’ secara setengah sarkastik industri seks Asia, di mana seorang lelaki Barat yang terasing dapat ‘singgah mengaso sejenak’. Pada akhir buku yang terbit tak lama sebelum serangan September ini, diceritakan bahwa tempat peristirahatan yang indah dari tokoh utama buku ini dihancurkan oleh kaum teroris. Selanjutnya Houellebecq mendapat masalah dengan muslim Perancis, di mana dalam sebuah wawancara ia menyebut Islam sebagai agama paling ‘dungu’. Juga tentang 9 september, beberapa novel telah ditulis tentang peristiwa ini. Jonathan Safran Foer mencantumkan New York dan terorisme dalam novelnya yang sangat sukses, Extremely Loud and Incredibly Close. Michael Cunningham juga melakukan hal yang sama dalam novelnya, Shiny Days. Di Turki, Orhanpamuk dalam novel indahnya berjudul Snow mempelajari latar belakang manusiawi radikalisme Islam di darah pinggiran Turki.

Untuk Salman Rushdie sendiri, tentu saja ada alasan lain mengapa ia bergelut dengan tema sejenis. Pertama, fatwa hukuman mati yang dijatuhkan padanya oleh Ayatullah Khomeini dari Iran setelah terbitnya Ayat-Ayat Setan. Dalam kasus ini Rushdie telah berhadapan dengan fanatisme agama 15 tahun sebelum terbunuhnya Theo Van Gogh di Belanda. Namun Rushdie juga punya motif lain untuk terlibat dalam isu-isu yang dianggap penting. Dalam dekade terakhir reputasinya dalam sastra dianggap cacat. Pertama, novelnya yang terlalu padat The ground Beneath Her Feet (1999), dikritik sebagai sebuah ‘karnaval yang terlampau bising oleh mitos dan realisme magis dengan ending yang ‘konyol bertabur konfeti”. Lalu kemudian muncul Fury yang menjadi buku cuma-cuma dalam Pekan Hadiah Buku di Belanda pada tahun 2001 yang ia maksudkan sebagai novel yang sangat aktual namun ditulis dengan tergopoh-gopoh. Keterburu-buruan yang tampak nyata dalam novel Fury tersebut yang pada akhirnya dicerca habis-habisan di Inggris, di mana saat itu warga Inggris juga tak menyukai kepindahan Rushdie ke Amerika Serikat.

Untuk novel Fury, Rushdie mengatakan bahwa saat menulis novel tersebut dalam dunianya ia merasa ‘terkejar oleh realitas’. Buku, -di mana pembunuhan merupakan benang merah yang mengerikan namun terorisme tidak memainkan peran-, adalah tentang dunia yang terguncang yang nyaris meledak oleh kemarahan yang tertimbun dan tersembunyi. Setelahnya Rushdie mengatakan, “Waktu itu saya memikirkan ide tentang gelembung sabun yang nyaris meletus. Tentu saja saat itu saya tak meramalkan 11 September, namun segalanya menuju ke arah keadaan bahwa akan terdapat akhir dari perasaan bahwa tak ada batas bagi segala kemungkinan, pemkiran yang kemudian menjadi dominan di New York.”

***
Dengan novel Shalimar De Clown (SDC) Rushdie kini berada di seberang garis. Gelembung sabun telah meledak, dan kemarahan telah nyata. Walaupun Rushdie mulai mengerjakan novel ini sebelum serangan 11/9, dan walaupun dia memperluas cerita sampai kembali ke tahun 1930-an, adalah jelas bahwa Rushdie berusaha memaklumi keadaan dunia setelah 11/9, dan bahwa ia berusaha menggambarkan secara para fundamentalis Islam secara lebih ‘manusiawi’.

Tulisannya berbeda dan lebih membingungkan ketimbang para pendahulunya. Rushdie jauh lebih mendekatkan diri kepada teroris dibanding Houellebecq dan Cunningham, di mana dalam novel-novel mereka para teroris masih dikenal sebagai orang-orang asing, menakutkan dan tak bisa dipahami. Dalam novel SDC Rushdie, para teroris menjadi tokoh (yang berbicara). Tepat pada akhir buku, seorang pengacara mengajukan pledoi untuk kliennya. Klien tersebut (Shalimar) dituntut karena pembunuhan duta besar Amerika untuk India. Menurut si pengacara, Shalimar melakukan pembunuhan tersebut oleh karena ia telah dicuci otak di kamp pelatihan teroris Islam. Pembelaan dari si pengacara tersebut adalah : bahwa pikiran dan kehendak Shalimar telah dikuasai melalui teknik penguasaan pikiran secara verbal, mekanis dan kimiawi yang telah merusak inti kepribadian Shalimar, dan mengubah Shalimar menjadi proyektil yang diarahkan ke jantung seorang manusia yang kebetulan adalah jantung duta besar utama penentang terorisme. Namun mengapa hal ini sampai terjadi? Tampaknya penyebabnya bukan sekadar keyakinan agama, melainkan kecemburuan dan balas dendam pribadi.

Rushdie menggambarkan latar belakang terorisme Shalimar dengan menggunakan sejarah pribadi di mana : Duta Besar berdarah Yahudi Max Ophuls, putrinya India (nama yang sama sekali tak disukai si gadis karena “mengisyaratkan sesuatu yang eksotis, sesuatu yang kolonial, dan kesempurnaan sesuatu yang semestinya bukan miliknya”), dan kekasih sekaligus pasangan menari Shalimar, Boonyi. Dan tentunya Shalimar, aktor dan badut yang memainkan pertunjukan-pertunjukan mitologi India dalam kelompok teater. Namun tak lama kemudan teater menjadi sesuatu yang fatal bagi Shalimar. Shalimar kehilangan kekasihnya, Boonyi, direnggut oleh si Duta Besar. Alih-alih Shalimar, si Penjajah Amerika (si Duta Besar) yang akhirnya menjadi ayah dari anak Boonyi. Tokok-tokoh kemudian menggulirkan cerita. Si Duta Besar dan putrinya hidup di ‘tanah yang dijanjikan’ Los Angeles. Shalimar dan kekasihnya hidup di ‘surga’ Kashmir. Pada bagian ini Rushdie memadukan fiksi dan sejarah dan tema-tema seperti cinta, politik-kekuasaan, seni, iman, dan fundamentalisme.

***
Berkenan dengan paralel-paralel tak terduga dan luasnya tema yang digunakan, maka Shalimar De Clown merupakan buku Rushdie yang sejati. Juga cara Rushdie mengurai dalam Shalimar De Clown, adalah cara yang telah kita kenal sebagai cara tipikal Rushdie. Novel SDC padat akan referensi literer, mitologi, dan ‘permainan-permainan postmodern’ yang harus memberikan pengertian terhadap motif si Duta Besar dan juga si Teroris. Sering hal ini terjadi dalam kepadatan referensi yang berdesakan dan ‘meriah’, metode yang sering menyulitkan Rushdie pada beberapa bukunya yang terakhir. Namun di buku SDC ini Rushdie berhasil. Sebab Rushdie telah mengetahui bagaimana mengendalikan ‘seni referensi padat’ ini. Hal yang mengangkat Shalimar ke tingkat yang lebih tinggi dari karya Rushdie sebelumnya adalah ketiadaan sampah realisme magis dalam buku ini. Walaupun benar adanya, bahwa dalam buku ini (masih) terdapat penjelasan tentang mimpi, yang merupakan ‘siksaan luar biasa’ bagi pembacanya. Bahkan meskipun dalam novel ini disebutkan adanya clair voyance, dan berjalan di udara, pada tataran tertentu Rushdie berhasil ‘mengendalikan’ dirinya.

Sebagai suatu uraian literer sejarah modern Kashmir, SDC dapat disebut sebagai buku yang sangat berhasil. Siapapun yang hendak menyajikan sejarah setengah abad suatu wilayah dalam sebuah fiksi, haruslah melakukannya dengan cara ini. Rushdie menggambarkan perkembangan wilayah Kashmir dengan menggunakan kisah petualangan Shalimar dan Boonyi. Realitas wilayah Kashmir adalah bahwa imajinasi harus segera dipinggirkan oleh politik. Pertikaian antara India dan Pakistan, dalam hal ini pertikaian antara Hindu-Islam, kian mendominasi cerita ini. Di wilayah di mana nilai-nilai tradisional pernah berjaya, kini didominasi oleh teror muslim fanatik. Perempuan dipaksa untuk memakai Burqa, mereka yang membangkang atau menentang disiksa atau dibunuh. Tradisi dibasmi dan akhirnya cinta antara Shalimar dan Boonyi menjadi percuma oleh pengaruh dunia luar.

Boonyi sendiri adalah seorang perempuan luar biasa. Tariannya menggoda. Itu pula yang dipikirkan oleh Max Ophuls yang mengunjungi area tersebut sebagai seorang Duta Besar. Si Duta Besar jatuh cinta pada Boonyi dan hendak memboyong Boonyi ke New Delhi di mana Boonyi bisa menjadi semacam 'pelengkap' bagi istrinya yang mandul. Boonyi menyambut tawaran ini dan meninggalkan tanah kelahirannya. Epik kuno Ramayana kini mendapat versi modern. Boonyi tidaklah diculik sebagaimana Sita, namun secara sukarela memilih kekayaan dan keberlimpahan materi si Duta Besar.

Namun semua itu tidak berlangsung lama. Gairah Max terhadap Boonyi mereda dan Boonyi mulai tak mempedulikan dirinya sendiri. Boonyi menderita gluttony (penyakit lahap makan berlebih) dan juga kecanduan obat. Saat melahirkan bayi perempuan, istri si Duta Besar menghendaki si bayi. Tanpa bayinya, Boonyi kembali ke Kashmir. Namun di tanah kelahirannya, Boonyi telah dinyatakan mati, dan ia tak dapat kembali ke kehidupan asalnya. Dalam pengucilan, Boonyi menderita sementara Shalimar yakin bahwa bahwa suatu hari nanti ia akan membunuh Boonyi sebagaimana ia yakin bahwa suatu saat nanti ia akan membuat perhitungan dengan si Duta Besar dan putrinya.

Jika hanya menggambarkan kisah ini, tampaknya SDC adalah novel roman yang ketinggalan jaman. Namun tentunya Rushdie menginginkan lebih dari itu. Shalimar tidak serta merta melakukan pembalasan, namun menunggu selama 24 tahun. Untuk sementara ia menjadi anggota “Pejuang Kemerdekaan” Kashmir, agar dapat mempersiapkan rencana balas dendamnya. Akhirnya ia ‘terdampar’ di kamp jihadis, di mana ia mendalami Alquran. Ia belajar teknik berkelahi, dan bersumpah akan mengorbankan jiwa raganya untuk imannya. “Saat dunia berada dalam kekacauan, Tuhan tidak mengirimkan agama cinta kasih. Dalam masa kekacauan, Ia menurunkan agama perang dan Ia menginginkan kita melagukan kidung peperangan dan menghancurkan para kafir.”

Si Badut kini menjadi seorang fundamentalis –atau mungkinkah ia masih seorang badut?. Sebab Shalimar sejatinya masih tetap bermain dalam sebuah ‘teater’ : ia menginginkan balas dendam pribadi, namun bagi lingkungan sekitarnya Shalimar dipandang seorang pejuang religius yang sangat meyakinkan.

Dalam hal ini Shalimar menjadi personifikasi tragis dari Kashmir. Perannya dalam teater yang memainkan mitos India kini digantikan oleh pemikiran di mana setiap bentuk imajinasi terlarang adanya. Bahkan jika perlu ditumpas. Sewaktu Shalimar mengikrarkan sumpah setia terhadap agamanya, saat itu ia paham benar bahwa balas dendam pribadi-lah yang sebenarnya ia kejar. Saat ia berikrar, Thalib si Afghan, seorang fundamentalis sejati, berkata padanya :”Engkau dahulu seorang aktor. Tuhan meludahi aktor. Tuhan meludahi tarian dan nyanyian. Mungkin sekarang engkau tengah berakting. Mungkin engkau seorang pengkhianat dan mata-mata. Engkau beruntung karena bukan aku yang memegang kuasa di kamp ini. Jika saja saya yang memegang kendali, saya akan tumpas para penghibur. Tuhan meludahi hiburan. Saya akan tumpas para dokter gigi, profesor, atlet, dan pelacur. Tuhan meludahi intelektualisme, kelakuan tak senonoh, dan permainan olahraga.” Shalimar tak menjawab sebab ia takut kedoknya terbongkar oleh si fundamentalis sejati.

Di samping kejadian-kejadian di Kashmir ini, juga terdapat kejadian-kejadian di Barat, terutama di Los Angeles di mana Max dan putrinya bermukim. Rushdie juga melakukan flash back ke masa muda Max sebagai seorang pemuda Yahudi di Strasbourg, seorang pahlawan perlawanan Perancis selama Perang Dunia II (PD II). Setelah PD II, ia menetap di Amerika. Kemudian hidupnya mengalir mengikuti salah satu dari beragam isu yang Rushdie inginkan dalam novelnya : politik kekuasaan Washington. Max Ophus harus mencari jalur diplomatik di antara peliknya hubungan India dan Amerika Serikat.

Salah satu hal pertama yang Max lakukan saat menjabat Duta Besar Amerika untuk India adalah mengunjungi Kashmir. Kini dua jalan cerita berpadu. Max bersua Boonyi, timur dan barat berpadu. Ya, juga secara seksual. Namun di sini tampak pula paralelisme : kemiripan antara Kashmir dan Alsace (suatu wilayah di perbatasan jerman-perancis yang menjadi selalu sengketa dan pertikaian antara kedua negara, pen.). Saat Max tiba di Kashmir untuk pertama kalinya, krisis yang terjadi saat itu membuat Max teringat pada krisis di kampung halamannya : perang tak berkesudahan antara Jerman dan Perancis yang membelah kehidupan di Alsace. Katanya, “Seandainya ada dua tempat yang berbeda dapatkah sedemikian berbeda seperti Kashmir dan Alsace? Ia bertanya pada dirinya; seandainya ada dua tempat yang serupa dapatkah sedemikian serupa seperti Kashmir dan Alsace?”

Rushdie menggunakan paralelisme ini untuk menciptakan kebingungan. Sebagai contoh, dalam perang perlawanan Perancis di PD II ia membiarkan Max merasakan ketegangan yang nikmat saat melakukan terorisme. Namun Max juga tahu bahwa ia bukanlah jenis orang yang cocok untuk pekerjaan ini, ia lebih cocok sebagai konseptor. Kita mungkin sedikit mengerutkan kening terhadap kontradiksi ini : Yahudi Barat dan konseptor (man of ideas) dan di pihak lain Fundamentalis penuh tekad dan pembunuh (murderer), namun Rushdie bahkan bertindak lebih jauh. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh banyak penulis setelah 9/11, ia membangun hubungan antara fundamentalisme Islam yang ada sekarang dengan ideologi nihilistik Nazisme. Ia ‘melihat’ adanya hubungan antara penggunaan Alquran oleh para ektremis, keyakinan bahwa hanya orang-orang ‘beriman’ sejati yang akan selamat, dan di pihak lain, cara di mana kaum Nazi mendasarkan keyakinan mereka pada mitologi Jermainik (mitologi kepahlawanan bangsa Jermainik yang diyakini sebagai tandingan mitologi Yunani (Barat) pen.) dan superioritas bangsa Aria.

Sayangnya, penggambaran bagian ini bukanlah bagian terbaik dari novel SDC. Bagian yang menceritakan kehidupan Max dengan orang tuanya selama PD II bahkan menyerupai cerita-cerita remaja mediokre. Kita bahkan dapat benar-benar meragukan upaya Rushdie untuk memadukan sastra dengan essayisme intelektual seperti yang coba ia lakukan dengan membandingkan antara ekstremisme Islam dengan Nazisme. Hal ini akan selalu menjadi perbandingan yang menarik secara ideologis, namun tak memperhitungkan secara layak realitas sejarah yang konkret.

***
Ideologi stratifikasi ini juga ditemukan dalam gambaran tentang Shalimar. Badut Shalimar digambarkan sebagai seorang munafik. Rushdie mencoba memberikan wajah ‘manusiawi’ tak hanya pada Shalimar namun juga orang-orang dari kamp terorisme. Rushdie tak hanya menunjukkan kelemahan dan sifat oportunistik mereka, tapi juga kekonyolan tingkah laku mereka. Ekstremisme Islam digambarkan konyol bahkan pada awal novel SDC ini. Sebagai contoh : Max muncul di televisi untuk memberikan keterangan tentang pembunuhan oleh muslim di Kashmir. Namun saat ia pulang, salah seorang perempuan simpanannya, seorang perempuan India (Zainab Azam, pen.), tiba-tiba berubah menjadi seorang muslimah yang geram terhadap pernyataan Max di televisi. Si perempuan digambarkan dengar karakter slapstik, yang kemudian segera menghilang dari cerita secepat kemunculannya. Fundamentalisme Islam dikonyolkan lebih lanjut saat pengacara Shalimar hendak melakukan pembelaan terhadap Shalimar dengan menampilkan Shalimar sebagai seorang teroris, sementara kesaksian India mengungkapkan secara gamblang bahwa pembunuhan itu semata karena balas dendam pribadi dan tidak bermotif terorisme.

Inilah pokok cerita : pembalasan oleh Shalimar yang dilakukannya 24 tahun setelah kekasih (istrinya) direbut oleh Duta Besar Max Ophus. Pembunuhan terhadap Max dan juga terhadap Boonyi, usahanya untuk membunuh India, adalah pembalasan Shalimar atas dendam masa lalu. Dan oleh karenanya sekilas tak ada kaitannya dengan motif terorisme yang menolak segala yang Barat. Namun terdapat kemiripan simbolik : Shalimar si India telah dipermalukan oleh Max si Amerika yang meniduri istri Shalimar hingga melahirkan India. Tidakkah ini merupakan simbol dipermalukannya dunia Islam yang jauh tertinggal oleh kafir Amerika, namun pula tergoda oleh kemajuan bangsa Amerika? Aib yang menjadi sumber lahirnya orang-orang radikal.

Dalam situasi seperti, Tuhan tampaknya tidak dilibatkan. Allah tampaknya tak banyak berperan dalam pembalasan Shalimar yang dilakukan atas namaNya. “Novel merupakan bentuk seni yang merupakan sarana yang paling tepat untuk merasakan ‘celah hitam ketuhanan’ dalam eksistensi kita.” Rushdie menulis dalam essaynya :Is Nothing Sacred?, sebuah essay yang ditulisnya setelah fatwa mati dijatuhkan atas dirinya. Kebangkitan seni diletakkan berseberangan dengan keterpurukan yang menjadi sumber lahirnya ektremis. Dalam ‘celah hitam ketuhanan’ novel ini, kita dapat melihat siluet seorang teroris yang dipermalukan, badut yang dirasuki dendam, yang akhirnya melakukan pembunuhan.
posted by Heru Hastowo @ 8:01 AM   0 comments
The Zahir - Sebuah Novel Tentang Obsesi
Akhirnya selesai juga membacanya, berikut sedikit resensinya :
Bersetting kota Paris dan dan pemandangan Asia tengah yang penuh pesona, novel baru dari pengarang best-seller internasional The Alchemist dan Eleven Minutes ini mengisahkan perjalanan seorang lelaki untuk menemukan istrinya yang telah meninggalkannya tanpa pesan.
Kaya dan tenar, si penutur (Aku) dalam novel The Zahir ini adalah novelis best seller yang tinggal di Paris dan menikmati segala keistimewaan yang bisa diberikan oleh uang dan ketenaran. Istrinya, Esther, yang telah dinikahinya selama sepuluh tahun, adalah seorang jurnalis berita perang, yang meskipun sukses dari segi profesi dan bebas dari segala belenggu norma perkawinan konvensional (perkawinan mereka kurang lebih sebagai sebuah perkawinan permisif dengan hubungan yang ‘terbuka’, pen.), namun menghadapi krisis eksistensi. Saat Esther tiba-tiba menghilang dengan seorang lelaki bernama Mikhail, yang mungkin saja kekasih selingkuhannya, pihak yang berwewenang menanyai sang suami. Apakah sang istri diculik, dibunuh, atau apakah ia hanya meghilang agar terbebas dari perkawinan yang tak membahagiakan? Si penutur tak punya jawaban namun ia sendiri juga punya banyak pertanyaan.

Lalu suatu saat, Mikhail, lelaki yang terakhir kali terlihat bersama Esther. Menemui si penutur dan berjanji akan mempertemukan si penutur dengan istrinya. Dalam usahanya untuk menemukan kembali cinta yang hilang, si penutur menemukan sesuatu yang tak terduga tentang dirinya sendiri.
Sebuah kisah yang tak terlupakan dan membebaskan, tentang sisi gelap obsesi. Novel Zahir menjelajahi potensi sebuah bacaan untuk memenuhi mimpi-mimpi kita dan juga untuk menghancurkannya. Juga merupakan meditasi penuh perenungan terhadap makna iman, ketenaran, perkawinan, dan kaitannya dengan kebebasan dan kreatifitas.

Berbagai Komentar
"Pers menyebutkan sekitar 65 juta kopi buku Coelho sebelumnya tercetak di seluruh dunia, memantapkan posisi pengarang Brazilia ini sebagai salah satu novelis paling laku sedunia (karyanya beredar di 150 negara dan dicetak dalam 56 bahasa). Buku ini, yang judulnya bermakna keberadaan atau keterlihatan dalam bahasa Arab, mengawali peredarannya dengan 8 juta kopi di 83 negara dan 42 bahasa. Buku ini berkisah tentang pencarian Aku si penutur akan istrinya yang hilang, Esther, seorang jurnalis yang baru saja meninggalkan Iraq oleh karena perang yang kian berkecamuk, namun tiba-tiba menghilang begitu saja di Paris. Si penutur, seorang pengarang, terbebas dari kecurigaan setelah Marie, kekasih (gelapnya) memberi alibi. Si penutur lalu berusaha mencari Mikhail, lelaki yang diduganya pacar (selingkuhan) teranyar Esther dan lelaki yang terakhir terlihat bersama Esther, juga lelaki yang meninggalkan tanah airnya Kazakhstan untuk melakukan lawatan dakwah tentang cinta. Mikhail lalu memperkenalkan si penutur pada kaum pencari spiritual bawah tanah di seluruh dunia yang menolak, secara halus, untuk hidup secara konvensional. Melalui perjalanan si penutur dari Paris ke Kazakhstan, Coelho menjelajah berbagai arti cinta dan kehidupan, namun akibat dari pelajaran ini kian memudar setelah diulang-ulang melalui berbagai cara dan berbagai tokoh. Lalu kemudian, 65 juta pembaca tak mungkin keliru; gaya kepenulisan Coelho yang lapang namun menggugah yang menggerakkan The Alchemist, Eleven Minutes dan buku Coelho lainnya, menghela para penggemar Coelho memahami beragam cara dan makna cinta.” Publishers Weekly (Copyright Reed Business Information, Inc.)

"Coelho terus membuktikan dirinya sebagi seorang penulis fabel kontemporer, merajut cerita yang memukau namun di saat yang sama juga mencari pencerahan. Tuturan(nya) yang memikat menawarkan perenungan pribadi yang dalam akan makna dan kekuatan cinta." Booklist

"Coelho… telah menulis kisah mencerahkan tentang iman dan reklamasi cinta yang murni " Library Journal

"Sebagai sebuah novel, Zahir gagal memberikan bahkan kisah yang paling sederhana sekalipun, walaupun novel ini juga mengandung egotisme kuat, diilhami oleh arogansi, yang dibungkus sebagai suatu pencerahan spiritual...." Baltimore Sun

Tentang Pengarang
Paulo Coelho lahir di Rio de Janeiro, Brazil, kota di mana ia kini bermukim. Kehidupannya sendiri, sebagaimana halnya tokoh-tokoh protagonis dalam karya-karya yang mendunia, penuh warna dan tak biasa. Seperti halnya tokoh-tokohnya, Paulo Coelho juga bertualang dalam mewujudkan mimpi-impinya. Mimpinya, menjadi seorang penulis, harus berhadapan dengan rasa frustrasi di hampir sepajang usia mudanya, di mana ia berulang kali berganti profesi. Beberapa profesi tersebut secara materil mencukupi, namun tidak secara spiritual. “Saya selalu tahu”, katanya, “bahwa Legenda Pribadi saya, menggunakan istilah dari Sang Alkemis, adalah menulis.” Ia berusia 38 tahun saat menerbitkan bukunya yang pertama.

Tahun 1979, setelah memutuskan kalau sekolah hukum tak cocok baginya, ia berkelana ke Amerika, Afrika Utara, Mexico, dan Eropa. Kembali ke Brazil setelah dua tahun, ia memulai karir sebagai penulis lagu pop. Pada tahun 1974, ia sempat dipenjarakan oleh rejim militer yang saat itu berkuasa di Brazil. Pada tahun 1980, ia mendapat pengalaman paling menentukan dalam hidupnya. Ia berjalan kaki sepanjang lebih dari 500 mil menyusuri Jalan Santiago De Compostela di timur laut Spanyol . Di jalan kuno itu, jalan yang digunakan oleh jemaah dari Perancis untuk mencapai katedral yang konon menyimpan sisa jasad St. James, ia mencapai tataran kesadaran diri dan suatu kebangkitan sipritual yang kemudian ia gambarkan dalam The pilgrimage.

Pauolo Coelho pernah berkata bahwa mengkuti mimpi-mimpi sama dengan mempelajari bahasa asing : banyak kesalahan yang akan kau buat namun akhirnya kau akan tiba di tujuan. Pada tahun 1988, ia menerbitkan The Alchemist, novel yang menjelajahi tema ini, yang juga kemudian mengorbitkannya sebagai penulis best seller dunia. The Alchemist kemudian terjual lebih dari 11 juta kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 41 bahasa. Di samping The Pilgrimage dan The Alchemist, Paulo Coelho juga menulis novel-novel memukau tentang berbagai perjalanan hidup, termasuk By The River Piedra I Sat Down and Wept, The Valkyries, The Fifth Mountain, dan Veronika Decides To Die. Pemenang sejumlah penghargaan sastra, Coelho juga menjadi pembicara utama untuk berbagai tema kemanusiaan. Tahun 1999, ia menerima Crystal Award for Artistic Achievement dalam Davos Economic Forum Conference. (Powell`s book dan Situs pribadi Coelho)
posted by Heru Hastowo @ 7:18 AM   0 comments
Impotensi, Akibat Gaya Hidup Keliru
Jika Anda termasuk pria yang doyan ngemil, suka makanan junkfood dan betah duduk berjam-jam menonton TV, maka bersiaplah mengalami disfungsi ereksi (DE).
Ini bukan menakut-nakuti, tapi hasil sebuah riset yang dilaporkan dalam American Journal of Medicine belum lama ini. Disebutkan bahwa 18 persen pria di Amerika Serikat berusia 20 tahun atau lebih, mengalami DE. Kondisi tersebut diduga disebabkan karena kebiasaan hidup yang buruk seperi kurang berolahraga, makan sembarangan dan terlalu banyak menonton TV.
Seperti sudah diketahui selama ini, DE banyak terjadi pada pria berusia lanjut, namun prevelansinya lebih banyak pada pria dengan diabetes dan tekanan darah tinggi.
Dalam riset tersebut diketahui sekitar 18,4 persen (atau 18 juta) pria AS berusia 20 tahun atau lebih mengalami kondisi ini. Sementara itu ada 5,1 persen pria usia 20-39 tahun, 14,8 persen pada pria usia 40-59 tahun, 43,8 persen di usia 60-69, dan 70,2 persen pada usia 70 tahun atau lebih, yang mengalami impoten.
Setengah dari pria yang menjadi responden penelitian ini memiliki penyakit diabetes dan DE. Sekitar 90 persen pria dengan DE beresiko terkena penyakit jantung, terutama pria dengan diabetes, tekanan darah tinggi, para pecandu rokok, serta pria dengan kadar kolesterol tinggi.
Pria yang menonton TV tiga jam atau lebih setiap hari lebih beresiko impoten dibandingkan dengan mereka yang hanya menonton TV selama sejam setiap harinya. Selain itu, impotensi lebih sering terjadi pada pria yang sama sekali tak berolahraga dalam sebulan.
"Hasil riset ini mengisyaratkan pentingnya hidup aktif; banyak bergerak, makan sehat, untuk kesehatan jantung. Yang baik untuk jantung, baik pula untuk kesehatan seksual," kata ketua tim riset, Elizabeth Selvin, dari Universitas John Hopkins, Baltimore, AS.
"Pesannya sederhana saja, dengan mengubah gaya hidup, kita bisa mencegah penurunan fungsi seks," katanya.
Kondisi yang termasuk dalam disfungsi ereksi adalah mereka yang "tidak pernah bisa", atau "terkadang mampu", untuk menjaga ereksinya. Sedangkan mereka yang "selalu atau hampir selalu bisa" dan "biasanya bisa," tidak termasuk dalam DE.

posted by Heru Hastowo @ 7:00 AM   0 comments
SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?
Monday, February 05, 2007

Saya warganegara Indonesia dari etnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan, bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra wayang, lisan maupun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, serta kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih tetap bertumpu pada kewibawan Hindu. Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta satria, sedang klas-klas atau kasta- kasta dibawahnya tidak punya peran sama sekali. Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya. Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik.
Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas Laut Jawa sebagai jalan laut internasional. Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mitos ini melahirkan anak-anak mitos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mitos lain: ditabukan berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.
Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara, dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah menafikan kemajuan zaman, memberikan beban sejarah yang tidak perlu, membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang sekarang. Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra demikian.
Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya, langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak langsung keekuasaan agar masyarakat tak punya peerhatian pada kekuasaan negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan kedua ini. Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi.
Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang - dengan sendirinya dari golongan ketiga ini -dinamai oposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun kalah- menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan berarti bahwa demokrasi tidak punya cacad. Eropa yang demokratis di Eropa justru tidak demokratis di negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.
Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap delik pers diputuskan melalui pengadilan. Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat. Larangan dan penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum kolonial.
Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan. Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan lahirnya mentalitas baru yang juga merosot. Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya "teposliro" (tahu diri), kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak kekuasaan. Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku sesuai hierarki kekuasaan menterjemahkan semakin kerdilnya budaya tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya belum pernah terjadi. Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesia-lah sensor kekuasaan bisa terjadi.
Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa. Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang perlu diadakan.
Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan. Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan suatu kebetulan bila kolonialis Belanda membuat Jawa jadi pusat imperium dunianya di luar Eropa. Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan. Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah "tepo-sliro", kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa Inggris "self-cencorship". Nampaknya elit kekuasaan malu menggunakan nama aslinya. Dengan demikian menjadi salah satu faset dalam kehidupan modern Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan. Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam kemapanannya.
Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara? Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas, diketahui dari mana asalnya, dan juga jelas bersumber dari hanya seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun barisan pembunuh bayaran. Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan kekenyalannya.
Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian demokrasi pancasila, yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang. Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan pancasila yang tak banyak acuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin, sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa, pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno sebagai penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa Pancasila di antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan sosial. Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan Pancasila bukan saja tidak pernah disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru yang mebuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno. Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra yang memberikan pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis belum pernah lahir. Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya dengan penindasannya. Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang banyak membaca dan menyukai sajak tersebut dan umumnya tak dikaitkan dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya.
Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya pada kolektivitas pengalaman ummat manusia.
Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan feodalisme.Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalime sebagai suatu sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya. Sstra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan, dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.
Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa terlepas.
Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, diantaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara. Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini. Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa ini jadi begini?
Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.
Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat manusia. Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.
Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus terpisahkan dari politik. Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor. Dan bahwa sastra sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya keluar dari pikiran parapengarang yang politiknya adalah tidak berpolitik. Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang "menolak" politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang telah mapan dalam pangkuan kekuasaan yang berlaku.

(* Pidato tertulis Pramoedya Ananta Toer, yang disampaikan ketika menerima Ramon Magsaysay Award 1995)
posted by Heru Hastowo @ 12:54 PM   0 comments
Sebab Ibunya Melarangnya Menangis
Si anak lelaki, kuat dan perkasa, terlahir dari karang. Seperti ini kejadiannya: bebatu yang mengarang, retak yang retas lalu mengelupas, dan hopla, lahirlah si anak lelaki. Sementara si anak perempuan, putih dan lembut, muncul dari buih laut yang mengambang dan terayun di pesisir.
--Dongeng seorang ibu kepada anaknya

Ia tak pernah menangis. Dari sekian banyak larangan ibunya, perintah untuk tak sekalipun menitikkan air mata-lah yang paling membekas di ingatannya, seperti luka yang meninggalkan jaringan parut di dalam benak. Ia mengagumi ibunya. Perempuan tangguh tanpa air mata dengan berhelai-helai uban di puncak kepala, dengan bibir tipis bagai garis –entah mengapa bibir ibunya teramat sukar melengkungkan senyum-. Dahulu, saat uban-uban itu tak ada dan bibir ibu masih merah oleh pewarna, ia sering memandang ibunya dengan tatapan penuh kekaguman. Ibu, dengan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak, muncul di ambang pintu, seolah dimuntahkan oleh sedan hitam berkilat, selalu datang tepat di pukul lima sore, menanyakan ini itu pada bibi pengasuh, lalu kemudian mengangkatnya dari buaian, atau kereta, bergantung di mana ia berada saat itu. Samar-samar ia masih mengingat semuanya, saat ibu menimangnya dalam diam. Dalam ingatannya, oleh ibunya ia selalu ditimang di lingkup senyap yang aneh. Selalu? Tidak. Ada waktu dan masa, saat bibi pengasuh tak ada, saat tak ada sesiapa di sekelilingnya, ibunya menggumamkan lagu dengan bibir terkatup. Semacam senandung tanpa kata. Hanya di saat-saat tertentu ibunya bersenandung, saat yang ditandainya kelak sebagai kenangan mewah masa kecil. Pelan dan demikian lirih suara ibunya, sehingga ia harus merapatkan kepala ke dada ibunya, berharap gema dari rongga dada ibunya membuat senandung itu menjelas. Sesekali akan diangkatnya kepala, memandang wajah ibunya. Ibunya bersenandung, tapi matanya menatap kosong seolah memandang jauh, dan tak ada senyum di mata dan bibir ibunya. Kadang ia merasa ibunya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, mahluk yang cantik namun mengerikan. Malam-malam, saat ia berbaring dengan lengan ibu merapat di selingkar dadanya, ibunya akan mendongeng. Ia hanya mengenal satu dongeng dari ibunya. Dongeng tentang anak lelaki yang lahir dari bebatu karang, dan anak perempuan yang muncul dari buih laut. Dan di ujung dongeng itu, ibunya akan menatap lekat-lekat, dan sihir di wajah ibunya, bibir yang menggaris dan terkatup, mata yang membatu, dalam genangan cahaya lampu kamar, selalu membuatnya terpaku. “Sebab engkau lahir dari karang, jangan pernah engkau menangis. Menjadi tegar seperti karang adalah kesetiaan lelaki, engkau terlahir sebagai lelaki yang tak boleh mengenal air mata. Air mata hanya mengalir ke laut, menjadi teman buih laut yang kelak melahirkan perempuan. Hanya perempuan yang menitikkan air mata. Bukan lelaki. Dan engkau harus menjadi lelaki yang paling karang.” Betapa ia memuja ibunya, tapi juga gentar teramat sangat. Kata-kata ibunya mengalir bagai serangkai musik monoton dalam kamarnya yang hening. Dan ibunya, perempuan yang ia kasihi, bangkit dari pembaringan, memadamkan lampu, meninggalkan kamar, menutup pintu yang memapas cahaya dari luar. Pada banyak malam setelah ibunya meninggalkan kamar, kerap ia tetap terjaga, dengan mata terbuka. Ia pernah demikian sangat membenci kegelapan. Tapi ibunya mengajarkannya tidur dalam gelap. Sendiri. Sebab kata ibunya, lelaki tak boleh takut pada kegelapan.
* * *
Di hadapan bibi pengasuh, kerap ia memeluk kecemasan yang sangat terhadap ibunya. Bibi pengasuh, dengan wajah sebulat rembulan dan bibir lembut menggelung tebal, adalah inang masa kecilnya. Kepada Bibi ia tak pernah gentar. Kepada Bibi ia pun sayang. Bibi, perempuan yang menyodorkan banyak nasehat tentang ibunya. “Ibumu tetaplah ibumu. Ia menyayangimu. Ia menginginkanmu tumbuh sebagai lelaki yang kuat dan tabah.” “Ibu melarangku menangis, Bi. Ibu selalu melarangku menangis.” “Anak yang baik tentu saja tak boleh menangis.” Saat itu ia telah beranjak remaja, dan sepanjang ingatannya ia memang tak pernah menangis. Tidak saat ia terjatuh dari sepeda dan pelipisnya robek hingga darah bagai membanjir, tidak saat ia berkelahi dan giginya rompal satu, tidak saat sekawanan anak-anak hingar mengolok-oloknya sebagai ‘anak aneh yang tak punya bapak’. “Bi, saat aku bayi, adakah aku sering menangis?” “Tentu saja tidak. Engkau adalah anak yang manis, yang patuh dan sabar….” “Tapi bayi sering menangis, Bi. Tidakkah aneh jika bayi tak menangis?” Si Bibi menghela napas. Ujarnya, “Bibi ingat, saat pertama engkau pulang dari rumah sakit. Ibumu selalu menggendong kau rapat-rapat, dan kerap mengurung diri di kamar. Sekali pernah Bibi mendapati engkau menangis. Tapi ibumu melarang Bibi untuk mendekat. Saat kau menangis itu, ibumu lantas menggendongmu, dan berbisik; diam, diam, anak lelaki tak boleh menangis. Dan ajaib, engkau langsung terdiam.” Si Bibi tak menceritakan bahwa di akhir kalimat ‘anak lelaki tak boleh menangis’, ada tangis yang menggantung namun tak pernah pecah. Suara si ibu berubah serak dan sendat, meski tetap getas, meyebut serangkai kalimat bagai igau dengan kemarahan yang berpuntal pulun : jangan pernah menangis, engkau harus tumbuh sebagai lelaki kuat. Bukan lelaki pengecut dan cengeng seperti ayahmu. Bukan lelaki yang meninggalkan seorang perempuan lunta yang tengah mengandung karena paksaan keluarga. Jangan menangis, jangan pernah engkau menangis seperti ayahmu yang pengecut. Lelaki yang kalah dan takluk oleh air mata ibunya.” Di hadapan ia yang remaja, si Bibi tersenyum. “Hanya sekali itu kudengar engkau menangis. Sepanjang pengetahuan Bibi, sejak saat itu, tak pernah Bibi dengar engkau menangis.” Ia yang masih remaja tercengang. Dalam pikirannya, jika si Bibi tak berbohong, ia adalah mahluk yang ajaib, yang hanya menangis sekali seumur hidup. Maka ia pun bersumpah untuk tak pernah menangis dalam hidupnya.
* * *
Ia mengasihi ibunya. Menghormati perempuan yang berangkat bekerja dengan rambut tersanggul kencang dan sepatu bertumit yang berdetak-detak. Perempuan yang setiap pukul sembilan pagi tertelan oleh sedan hitam untuk kemudian dimuntahkan kembali di sore hari. Ia mengerti ibunya harus bekerja keras, sebab segala yang terbaik harus tersedia baginya. “Ibu harus bekerja keras. Ibu ingin kau berhasil, menjadi lelaki tangguh, mandiri dan sukses. Ibu ingin menunjukkan tanpa seorang ayah, Ibu sanggup membuatmu menjadi karang!” Ayah. Betapa pernah ada masa ia mempertanyakan sengkarut misteri pada sosok bernama ayah. Di langit ingatannya, sosok Ayah bagi awan gemawan, berarak tanpa pernah turun sebagai hujan di senyata teratak. Pernah ia mengira ia dilahirkan begitu saja dari rahim seorang ibu, bagai sosok suci yang tak berbapa, sebelum ia sadar bahwa ia tentu saja harus berayah. Tapi pertanyaan tentang ayah pada ibunya selalu beroleh jawab dengan bibir yang mengatup bungkam atau dua penggal kalimat tajam : Ayahmu lelaki lembek dan pengecut. Ibu tak ingin kau menyebut-nyebutnya…. Ia bersikeras, namun ibunya bersibaja. Segala pertanyaan tentang ayahnya terbentur, rontok dan terabai. Bibi pengasuhnya pun menggeleng saat ditanya. Ia tak pernah tahu, pada kesempatan yang tak terbilang di belakang punggungnya, ibunya meminta si Bibi mengulang sumpahnya : tak akan membeberkan cerita tentang siapa ayahnya. Ujar ibunya pada Bibi yang menunduk patuh : Anakku tak cukup sepadan untuk mengetahui riwayat seorang lelaki cengeng yang hanya bisa menuruti telunjuk ibunya. Lelaki yang tega meninggalkan perempuan dengan janin di perut lantaran paksaan keluarga! Ia tidak pernah tahu jika si Bibi harus mengulang-ulang sumpah di hadapan ibunya. Untuk ayahnya yang tak pernah ia temui dan ia pahami, ia mulai mengarang cerita di kepalanya : ayahnya adalah pelaut malam, kelana segala samudera, yang suatu saat bertemu ibunya, si penangguk buih di tepi pantai. Dan ibunya, khilaf oleh ketampanan si pelaut malam, bercinta dengan si pelaut malam, hingga ia terlahir. Ibunya lantas berkehendak menjadikannya sebagai karang, sebagai pengingat terhadap si pelaut malam yang kini meninggalkan ibunya. Karang selalu menggentarkan pelaut ulung mana pun. Dengan ia sebagai karang, si pelaut malam (ia mulai perpikir si pelaut malam sebenarnya adalah sebangsa lanun dan rompak!) tak akan pernah berani menjejak pantai ibunya. Ialah kini karang pelindung ibunya dari segala lanun yang jahat. Ia, anak karang, berayah lanun malam. Ia menyukai kisah rekaannya sendiri tentang ayahnya, menghayatinya sepenuh rasa, lalu memutuskan bahwa ia tak perlu lagi mengurai benang kusut tentang siapa ayahnya.
* * *
Ia telah dewasa kini. Tangguh, mapan, berbahagia dan tengah jatuh cinta. Ia jatuh ke kedalaman cinta yang tak terbayangkan. Ia merana, bergembira, berduka dan tertawa dengan kebahagiaan menjulang, menukik dan melesat. Ia menganyam saat-saat berbahagia dengan kekasihnya. Kekasihnya yang baik dan setia, yang tulus membahagiakannya, mencintainya tanpa syarat. Mereka -ia dan kekasihnya-, bercinta bagai debur ombak, tanpa lelah dan tak putus, mabuk dan kasmaran. Ia merahasiakan percintaannya yang gemerlap dari ibunya. Ibunya, kini dengan uban di puncak kepala dan bibir yang tetap tipis dan menggaris, tetaplah menjadi mahluk paling menggentarkan yang pernah ada bagi dirinya. Ibu yang melarangnya menangis, yang menjadikannya terkarang dari yang paling karang, lelaki dari para lelaki. Ia mengasihi ibunya sekaligus gentar padanya, namun kini ia pun mencintai kekasihnya. Dalam dirinya dua mahluk berseteru berebut pengaruh. Ibunya yang membentuknya menjadi karang, dan kekasihnya yang membuatnya menjadi karang yang berbahagia. Pada ibunya ia tak bisa bercerita tentang kekasihnya. Pada kekasihnya ia berbisik penuh galau tentang ibunya, tentang perempuan paling baja yang kini menikmati masa tuanya, tetap tegar dan kuat meski tak lagi mengenakan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak. “Ibuku kini berbahagia dengan masa tuanya, sebab aku telah menjadi karang,”bisiknya di telinga kekasihnya. “Engkau memang karang. Tapi karang yang baik akan mempertemukan ibunya dengan kekasihnya.” “Kau tahu itu tak mungkin...” “Kenapa tidak?” “Kau tak tahu ibuku...” “Aku adalah kekasihmu. Engkau semestinya mempertemukan kami.” “Entah apakah aku akan sanggup…” “Ibumu adalah ibumu. Ia tentu saja menyayangimu. Dan ia ingin kau berbahagia.” “Ibu tak pernah bercerita tentang kebahagiaan. Ibu hanya ingin aku menjadi karang dan tak boleh menangis.” “Kau tak pernah menangis?” “Tak pernah. Sepanjang ingatan saya.” “Juga oleh aku?” “Kau bisa membuatku sedih, tapi tak pernah bisa membuatku menangis.” “Aku ingin menemui ibumu.” “Kau kini membuatku merasa cemas.” Ia merasa tak menemukan jalan lain. Baginya si kekasih tak mungkin lagi dipisahkan dari dirinya. Dan ibunya harus ia pertemukan dengan kekasihnya. Ia berharap ibunya akan menerima kekasihnya, dan ia akan menjadi lelaki yang paling berbahagia. Karang yang paling berbahagia.
* * *
Maka suatu saat ia membawa sang kekasih ke hadapan ibunya. Ibunya tak berkata apa-apa saat ia memperkenalkan kekasihnya. Dengan bibir terkatup ibunya menyambut uluran tangan kekasihnya, lalu melangkah masuk kamar, menutup pintu yang menetap tutup hingga hari berakhir. Ia dicekam kerisauan akan kemarahan ibunya. Kekasihnya telah pulang namun telah berjam-jam ibunya masih mengurung diri dalam kamar, dan ia merasakan sesuatu yang mengeras di ulu hatinya. Ketakutan yang sangat, yang tak pernah dirasakan sekalipun dalam hidupnya. Ia memutuskan melangkah masuk ke kamar ibunya. Di sudut kamar ia dapati ibunya duduk menghadap lampu kamar. “Ibu….” Ia merasa tenggorokannya cekat, suaranya berhenti dalam henyak. Ibunya tak menoleh. Dalam temaram lampu kamar, ibunya mematung dengan mata nanar. Kata-kata ibunya samar namun tiba penuh gemuruh di gendang telinganya. “Ibu membesarkanmu sebagai karang sejati. Tapi Ibu tak pernah menyuruhmu menjadi karang yang aneh, memilih karang lain, lelaki lain, sebagai kekasih. Aib, aib kataku…..” Dan inilah yang disaksikannya. Mata ibunya, perempuan baja yang menjadikannya karang, mengaca sebelum berderai basah. Ibunya menangis. Bibirnya yang tipis lengkung dan bergetar. Ia kini melihat ibunya dalam wujud yang tak pernah ada dalam mimpinya sekalipun. Ia masih tertegun di ambang pintu. Dalam benaknya sekonyong membayang laut yang bergelora, buih yang cecah dan terpelanting, karang-karang cuat dan mengancam. Karang-karang yang terjal tajam, sendiri dan kesepian. (essowenni)

posted by Heru Hastowo @ 12:47 PM   0 comments
English Usage Article


1. Beside & Besides

Besides and beside are two words that are often confused. Grammatically, besides is an adverb or a preposition, and beside a preposition.

Beside
Beside means next to:

A house beside the sea
She sat beside her friend.

Besides
As a preposition, besides means in addition to or apart from

What are you studying besides English? (in addition to)
Who was there besides Jon? (apart from)

As an adverb, besides means as well or furthermore.
He was scruffy and badly prepared. Besides, he turned up late for the interview.


2. The Use of By + Until

When do we use By?

We use by to set a time limit for completion:

It must be ready by Friday.
It can be ready before Friday, but Friday is the final day. (By is a preposition here.)

When do we use UNTIL?
We use until when the activity continues throughout the period up to the time limit:

I'll be here until five o'clock.
Between now and five o'clock, I shall be here all the time. (Until can be a preposition (until five o'clock) or a conjunction (until you have finished.) )



3. For & Since

For

We use for when we are talking about the duration of an action or state:

I have lived in London for seven years. (This tells us how long I have lived in London)
For is a preposition here.

Since

We use since when we are talking about when the action or state started:

I have lived in London since 1997. (This tells us when I started living in London.)
Since can be a preposition (since five o'clock) or a conjunction (since I met her).


4. Speak English with Body Language

When we speak, we use much more than just words. We also communicate with our face, our hands, and even our own body. This kind of communication can be called "body language" or "non-verbal communication". Non-verbal communication not only includes how we move our body, but also hand gestures, facial expressions including eye contact, and how we use our voice. Psychologists estimate that between 60% and 80% of all of our communication with other people is non-verbal. We communicate a wide range of information non-verbally. We also show our feelings, attitudes, moods, hopes and wishes far better with non-verbal language than with words. Not only is a large QUANTITY of communication non-verbal in nature, but the QUALITY is high as well. For example, if a person says something positive while his face looks negative, which are we more likely to believe? In most cases, we will believe the non-verbal facial expression. In the end, his words will not succeed in communicating his message. If we want to succeed in our everyday conversations, we really must learn to "speak" with our body well! Let me begin by giving you some general advice. The main thing is to relax and be natural. Trying too hard to use "body language" will make you seem a bit strange. Instead, you should allow your body language to naturally follow your words. If you say something positive, then your face, body and hands should show it too. If you are expressing a sad or worried feeling, then your face, body and hands should change with that feeling. As you think about it more and consider how you can use your body to communicate, you will become more and more natural. More specifically, let's talk about hand gestures. Using our hands, we can emphasize our main points, remind our listener how many main points we have, and let our listener know when we are changing topics. A dramatic movement of the hand or moving our hands wide apart can signal how important something is. We can even use two fingers, either close together or far apart, to show how big something is. To show VERY strong feeling we could clap our hands together loudly or make a fist (put our fingers in a ball as though we want to hit someone) and hit a table or desk. To show that we welcome someone, on the other hand, we can hold our hands out with the palms up, and maybe move them towards a chair to invite someone to sit next to us. Of course, we can also use our fingers to count, but be careful. People in some countries do not count the same way as in China. In France, for example, people do not count "one" by holding up their first finger, called the "index finger". Instead, they hold up their thumb. In Japan, some people put their thumb DOWN (with the four fingers up) to mean "one"! This can create confusion sometimes, so be sure not to use only non-verbal communication. Use words too, so that your listener will be sure to understand you. Some hand gestures that are popular are waving to someone as a greeting or holding your index finger and thumb into a circle to mean "okay". However, there are some countries where these can have bad meanings! It's important to be careful when using certain common gestures. Don't assume that everyone in the world understands one gesture in the same way. Still, you can use basic gestures most of the time, then when you see a strange reaction from your listener, you can make sure to emphasize your real meaning by using words and a different hand movement. Facial expressions are a very common way that we use to communicate every day. When speaking English, it's generally good to smile at your listener from time to time, especially when he or she has made an interesting comment. Also nod your head up and down to show you are really interested. From time to time, you can add a sound of agreement, such as "Uh huh" or even just "mmmm", to show you are listening. Above all, it is important to maintain eye contact while listening. Sometimes it is okay to move your eyes away when you are speaking, because you do have to think about what you want to say. However the listener should almost always look at the speaker without moving the eyes away (without "averting" the eyes). If you are speaking to someone while standing, it is important to stand neither too close nor too far from the speaker. Stand at a position that is comfortable for both of you. Again, though, you must be careful when talking to people from different countries. People from some southern European countries, such as France or Spain, often stand closer together when speaking than do Chinese people. And people from Arab countries such as Saudi Arabia stand even closer! You do not always have to adapt your behavior when you meet people from around the world, but you should be aware of potential misunderstandings. If, instead of standing, you are speaking to someone while talking, you can show your friendliness and "openness" by leaning a little bit toward the speaker. Try to avoid folding your arms in front of your chest. Many people consider folding your arms as a cold, "protective" gesture. Instead, you could have your hands on your knees, or one hand on your knee and the other at your side. You can fold your arms sometimes if you wish, but don't hold them there for a long time. As long as your hands move from time to time, the listener will not think that you are unfriendly. Besides all of the obvious physical ways to communicate non-verbally, we have our voice. We use "intonation", loudness and "pitch" (how high or low our voice sounds) to change our meaning. Even when our voice does not make an actual word, it still can communicate feeling and attitude. Combined with the words we use, our voice can be a very powerful way to express what we mean. A strong voice can communicate confidence while a quiet voice communicates intimacy or some secret message. A loud, high pitched voice (similar to a girl screaming) can communicate nervousness or excitement, while a deep voice might mean we are tired or not enthusiastic. Body language is one of the basic skills that all students need.

















posted by Heru Hastowo @ 9:20 AM   0 comments
From Highland
Londa, Stone Graves Complex
In front of souvenirs shop at Rantepao


Earlene, What's in your mind ?


Pond of Makale, the town surrounded by hill

posted by Heru Hastowo @ 8:23 AM   0 comments
Shoes of the Year
Futuristic, kalo dipake ke pesta orang-orang pada lari kali yach,takuut!
pake sepatu sambil dengar music! Kebayang gak asyiknya?

Double function, kalo ada jambret atawa rampok tinggal buka sepatu terus jadikan sarung tinju!


Sponge Bob Maniac!


Kasian ya si Sapi, kepala dan badannya dipotong demi sebuah sepatu!


Ihh Ngeri! Kalo di pake ke Sekolah Bapak/Ibu Guru bisa lari nich.......

posted by Heru Hastowo @ 8:03 AM   0 comments
Perubahan Zodiak
Bagi anda yang sering menjadikan zodiak atau bintang dalam mengintip "nasib" baik itu asmara, keuangan, kesehatan bersiap-siaplah untuk membiasakan diri berganti bintang atau zodiak. Ini disebabkan karena perubahan masa edar perbintangan akibat pengaruh rotasi bumi. Perubahan ini tidak mendadak, sedikit demi sedikit... perubahan akibat berubahnya rotasi bumi dan gerak bumi keliling mataharipun berubah sedikit. Biasanya memang setiap 50 tahun sekali kalender astronomi di koreksi. Berikut ini perubahan zodiak berdasarkan masa edar yang diperoleh dari Bagian Astronomi ITB dengan munculnya zodiak baru yaitu OPHIUCHUS :

Capricornus : 21 Jan - 16 Feb (26 hari)
Aquarius : 16 Feb - 11 Mar (24 hari)
Pisces : 11 Mar - 18 Apr (38 hari)
Aries- : 18 Apr - 13 Mei (25 hari)
Taurus : 13 Mei - 22 Jun (40 hari)
Gemini : 22 Jun - 21 Jul (29 hari)
Cancer : 21 Jul - 10 Ags (20 hari)
Leo : 10 Ags - 16 Sep (37 hari)
Virgo : 16 Sep - 31 Okt (45 hari)
Libra : 31 Okt - 23 Nov (23 hari)
Scorpius : 23 Nov - 29 (Nov 6 hari)
Ophiuchus : 29 Nov - 18 (Des 19 hari)
Sagitarius : 18 Des - 21 (Jan 34 hari)

So, siapa yang zodiaknya berubah ?
posted by Heru Hastowo @ 7:33 AM   0 comments
Jakarta Dicuci!

B a n j i r !!!!
Banjir '5 tahunan' ini semakin lebih parah dan meluas. Solidaritas sosial begitu penuh, saling menolong saling berbagi rasa. Hanya sekedar menelpon, ngobrol mencairkan rasa sendiri yang terkurung banjir agak mengobati. Menampung kenalan/teman yang tempat tinggalnya terkena banjir. Petugas pintu air di beri kewenangan untuk membuka/menutup pintu-pintu air membagi sama rata air bah ke semua kawasan. Sehingga kawasan yang semula tidak pernah banjir menjadi kena banjir. Yang dulunya kena banjir sampai seatap rumah cukup bersyukur hanya sampai sedada manusia dewasa. Jakarta masih dalam keadaan darurat.Tetapi ada juga yang memandang bahwa banjir sudah jadi tradisi; mereka menontondari rumah-rumah yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi banjir; rumah bertingkat.Banyak kerumunan orang-orang di pinggir sungai yg hanya dilalui air bah; untuk memancing mencari ikan terbang.Banyak orang bahkan mengais keuntungan di banjir; mengkomersilkan gerobak-gerobak sampah untuk transportasi. Dalam musibah selalu ada berkah. Dibalik itu ada juga potret kehidupan yang masabodoh atau tidak peka? Di kawasan pertokokan di Jakarta Selatan, di lingkungan perumahan mewah yang sama sekali tidak tersentuh banjir sedikitpun; kehidupan berjalan seperti biasa. Lalu lalang pengunjung yang wangi, toko-toko dengan musik yang hingar bingar seperti tak pernah terjadi sesuatu.Tak ada leaflet anjuran menyumabng atau kotak-kotak untuk penggalangan dana yang tersedia.Padahal 1 kilometer dari pusat pertokoan sedang terjadi bencana yang memerlukan bantuan logistik. Dimanakah nurani kita?
posted by Heru Hastowo @ 7:19 AM   0 comments
Kowe Mahu Kerdja ?
Friday, February 02, 2007
Ngebacanya sambil ngebayangin orang londonya ngomong yah hi hi hi
DAG INLANDER,... ..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOETJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENTNEDERLANDSCH INDIEDJIKA KOWE POENJA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:
1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak ataoepoen malingataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toeantanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.
KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIHLIWATDJOERI-DJOERI JANGBERTOEGAS :
1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali
Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja Kowenanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo,Tanamera,Batam, Soerabaja, Batavia en Riaoeeiland. Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.Haastig kalaoe kowe mahoe..
Pertanggal 31 Maart 1889
Niet Laat te Zijn Hoor..Batavia 1889 Onder de naam
van Nederlandsch Indie Governor Generaal
H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij
posted by Heru Hastowo @ 7:56 AM   0 comments
Lampu Motor

Sejauhmana efektifitas aturan menyalakan lampu motor di siang hari ? Pertanyaan ini terus menggelayuti pikiran saya dalam beberapa hari ini. Kenapa ? Bayangkan saja mulai Sabtu ( 27/01/07 ) sampai Rabu ( 31/01/07 ) saya menjadi saksi betapa aturan ini tidak dapat menghindari kalau tidak sekedar mereduksi angka kecelakaan, dan sialnya kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang 4 hari itu berlangsung di depan mata saya, dari empat kecelakaan itu saya selalu berada tepat di belakang si korban dan menjadi saksi mata ! Malah kejadian yang pertama pada Hari sabtu saya sempat berurusan dengan polisi ( salah satu institusi yang paling saya hindari! ). Ini kebetulan atau "peringatan" kepada saya untuk lebih berhati-hati berkendara, apalagi 3 tahun lalu saya pernah mengalami kecelakaan yang mengharuskan lutut sebelah kanan harus rela menerima 16 jahitan, saya tidak tahu persis yang jelas tujuan semula aturan menyalakan lampu motor di siang hari untuk meredam angka kecelakaan di jalan raya tidak terbukti meskipun juga faktor human tidak bisa dikesampingkan. Akhirnya mari menyalakan lampu motor di siang hari bukan karena kita sadar bahwa cara ini bisa mengeliminir angka kecelakaan tapi karena kita disuruh Pak Polisi!!!
posted by Heru Hastowo @ 7:28 AM   0 comments
Saya Adalah . . .

" Lelaki Kecil dari Kota Kecil di Sudut Kalimantan bagian Timur, Suami dan Ayah dari seorang isteri dan dua orang titipanNYA. Saya hanya manusia biasa yang berusaha menggunakan hati,pikiran dan rasa dalam meniti hidup yang semakin tidak jelas ini sehingga semua yang ada di dalam halaman ini hanyalah wujud dari berfungsinya ketiga elemen itu. "

Menu Hari Ini
Menu Lalu
Klik Juga
oggix.com : <a href=http://oggix.com> Free Shoutbox & Complete Blog Tools</a>
yang lagi liat :
page counter