*Oleh : Heru Hastowo Tulisan saya yang "rencananya" dimuat di Kaltim Post, setidaknya saya sudah bersuara menorehkan apa yang saya dengar, lihat dan rasa. …… ..... Saya pernah ke Kota Bontang , di sepanjang jalan di dalam kota terlihat tulisan “Bontang Kota Taman” yang menandakan slogan kota ini, tapi tamannya mana ?............
“ Jangankan anda yang hanya “pernah” ke Bontang, sayapun yang sudah bertahun-tahun menetap dan mencari penghidupan di Bontang tidak menemukan taman yang benar-benar taman” Demikian penggalan percakapan saya dengan seseorang di sebuah terminal bus di sebuah kota beberapa waktu yang lalu. Teman seperjalanan tersebut mempertanyakan keberadaan taman di kota dengan slogan Kota Taman ini yang merupakan akronim dari Tertib, Agamis, Mandiri, Aman dan Nyaman. Pertanyaan tersebut sangat wajar diutarakan karena kenyataannya tidak ada taman yang diadakan dan dikelolah oleh Pemerintah Kota sebagai representasi dari tag line Kota Taman tadi. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia taman adalah tempat yang ditumbuhi bebungaan, tempat bersenang-senang atau tempat yang menyenangkan, sedangkan Wikipedia mendefenisikan taman sebagai tempat terencana atau sengaja direncanakan dibuat oleh manusia, biasanya di luar ruangan, dibuat untuk menampilkan keindahan dari berbagai tanaman dan bentukan alami. Taman berasal dari kata Guard yang berarti menjaga dan Eden yang berarti kesenangan. Jadi Taman adalah sebuah tempat yang digunakan untuk kesenangan yang dijaga keberadaannya. Bila kita lihat di Kota Bontang, hampir tidak ada taman kota yang sesuai dengan arti dan fungsi sebuah taman, kalaulah ada taman Cibodas, taman di Area Danau Permai di kawasan PT.Pupuk Kaltim dan taman di sekitar Town Centre PT.Badak tentu ini milik kedua perusahaan tersebut dan bukan taman yang direncanakan, dibuat dan dirawat oleh Pemerintah Kota sehingga keberadaan taman-taman tersebut tidak lantas menjadi representasi dari Kota Bontang sebagai Kota Taman. Di sepanjang jalan protokol di Kota Bontang dimulai dari Tugu Selamat Datang ( Tugu Khatulistiwa ) sampai ke Ujung Berbas, Tanjung Limau, Tanjung Laut dan Loktuan tidak kita temukan taman. . Keberadaan median jalan yang selama ini diklaim sebagai taman oleh Pemerintah Kota sebenarnya tidak layak untuk menyandang sebutan tersebut karena median jalan ( bagian tengah pemisah jalur jalan ) yang ditumbuhi berbagai tanaman sesungguhnya hanya berfungsi sebagai Street Furniture dan tidak dapat berfungsi sebagai taman. Padahal lahan untuk pembangunan Mall yang saat ini lagi dikebut di simpang Jl.MT.Haryono – Jl.Mulawarman sangat ideal difungsikan sebagai taman kota, baik dari segi tata ruang maupun estetika kota ketimbang memuaskan nafsu konsumerisme membangun Mall yang tentu sarat dengan kepentingan. Keberadaan kota dan slogan atau tag line tidak sekedar akronim akan tetapi dapat menjadi identitas. Dari perspektif orang-orang pemasaran langkah-langah dalam membentuk merk suatu kota harus sesuai dengan visi dan misi, brand positioning ( posisi ), brand personality ( kepribadian ), soul of the brand ( jiwa/ruh ), brand identity ( identitas ) sehingga slogan yang diciptakan sungguh-sungguh bermakna dan bukan sekedar kata-kata. Visi dan misi sangat menentukan dalam pembuatan slogan yang berfungsi sebagai step on akan seperti apa Kota Bontang di masa mendatang dan misi merupakan “ruh”arah strategis yang akan dijalankan untuk mewujukan visi tersebut. Soul of the brand adalah langkah pertama menuju area pembangunan slogan atau brand building . Harus ada “ruh” yang membuat slogan itu benar-benar nyata adanya. Seperti kehadiran taman sebagai “ruh” dari keberadaan slogan “Kota Taman” tersebut. Brand positioning adalah posisi kota yang akan ditanamkan dalam benak masyarakat berupa persepsi, jika kita berbicara Bontang maka persepsi yang akan hadir adalah Bontang dengan hiasan taman-taman kota yang indah dengan segala aksesorisnya tetapi bila sebaliknya slogan “Kota Taman” hanya menjadi kata tak bermakna tak berbukti yang cenderung dipaksakan atau sekedar dipas-paskan untuk memenuhi akronim Tertib, Agamis, Mandiri, Aman, Nyaman, maka niscaya persepsi tersebut di atas akan memudar, hilang dan tersingkirkan dengan sendirinya karena kehilangan kepribadiannya sebagai sebuah slogan ( brand personality ).
Dengan luas 49.575 Ha – yang terdiri dari daratan seluas kurang lebih 14.780 Ha ( 29.70 % ) dan lautan seluas 34.977 ( 70.30 % ). Luas dataran meliputi kawasan Hutan Lindung seluas 5.950 Ha ( 11,96 % ), PT.Pupuk Kaltim 2.010 Ha ( 4.04 % ), PT.Badak NGL,CO 1.572 Ha ( 3.15 % ) sedangkan untuk kawasan pemukiman penduduk seluas 5.248 Ha ( 10.56 % ) ( www.bontang.go.id ) Kota Bontang setidaknya harus menyisakan ruang kota untuk taman bila Pemerintah Kota ingin mempertahankan identitas Kota sebagai Kota Taman, tulisan ini tidak ingin berbicara tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW ) atau Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah ( RJPPD ) karena ini adalah wilayah “kebijakan” yang seringkali teritorialnya tak terpisahkan dari wilayah politis. Jika taman tidak dapat dihadirkan sebagai identitas kota mengapa Pemerintah Kota tidak mengusung tag line Kota Bontang sebagai KOTA INDUSTRI yang sangat identik dengan eksistensi Kota Bontang sebagai kota dengan industri migas, pupuk dan batubara. Kata INDUSTRI pun dapat bermakna Indah, Teduh, Sehat, Tertib dan Iman. Meskipun meredefenisi dan mengganti slogan kota tidak segampang membalikkan telapak tangan, selain butuh kajian mendalam dan persetujuan pemerintah dan stake holder, Industri tidak dapat dipisahkan dari denyut nadi keseharian Kota Bontang sehingga tag line ini akan mudah diposisikan dan dipasarkan karena persepsi Kota Bontang sebagai Kota Industri itu sudah terbentuk dengan sendirinya demikian pun dengan soul of brand-nya yang sudah hidup sebelum lahir dengan keberadaan ketiga industri besar tadi, sehingga bila kita berbicara tentang Bontang maka persepsi nyata yang hadir di benak dan pelupuk kita adalah kota dengan industri raksasanya dan menjadi atmosfir kota. Slogan ini jelas akan lebih vivid daripada Kota Bontang sebagai Kota Taman. Belum lagi kalau kita berbicara bagaimana menarik investasi ke Kota Bontang melalui slogan, tentu slogan Kota Industri lebih marketable dan sangat sesuai dengan konteks kekinian. Mungkin sebagai contoh Kota Jogja yang mengusung slogan Jogja Never Ending Asia untuk penjual pariwisatanya atau Kota Pare-Pare sebagai Kota Bandar Madani, yang memadukan konsep pembangunan kota pelabuhan ( Bandar ) dengan penguatan masyarakat yang sadar akan hak-haknya ( Madani ). Slogan, semboyan, tag line atau sebutan-sebutan lainnya yang merujuk pada “ citra” sebuah kota tidak sekedar akronim tanpa makna atau akronim yang sekedar dicocok-cocokkan akan tetapi harus benar-benar menjadi personifikasi eksistensi kota tersebut. Demikianpun dengan Kota Bontang sebagai Kota Industri selayaknya memiliki slogan yang sesuai dengan keberadaannya. * Penulis, masyarakat awam, tinggal di Kota Industri, Bontang |
Sepakat sekali Pak Heru, Bontang sebagai Kota Taman terkesan dicocok-cocokkan. Mana ada taman di Kota Bontang ...??