.:Lelaki Kecil dari Kota Kecil:.

Segala yang kudengar, kurasa, dan kulihat ........

 

Heru Hastowo
Allahumma inni As-alukaa ridhaaka wal jannah ...
Afiliasi

Free Blogger Templates

BLOGGER

Pesan Nenek
Thursday, March 15, 2007


Ada salah satu pesan dari sekian banyak pesan mendiang Almarhumah Nenek saya yang selalu saya ingat : HIndarilah Rumah Sakit dan Polisi. Tentu pesan ini adalah adalah eufemisme dari senantiasa hidup sehat dan selalu berbuat sesuai dengan norma dan hukum yang ada sehingga dapat terhindar dari urusan dengan Rumah Sakit dan Polisi.

Tapi berhubungan dengan dua institusi tentu tidak dapat kita hindari dengan berbagai alasan kepentingan dan tentu berhubungan dalam hal ini dalam konotasi yang baik. Semisal mengurus SIM atau menjenguk kerabat yang sakit. Berbicara tentang menjenguk kerabat atau rekan yang sementara terbaring di Rumah Sakit, terkadang saya berfikir bagaimana rasanya sakit dan berbaring di rumah sakit, dijenguk banyak orang sambil didoakan semoga cepat sembuh, minum obat daln lain-lain aktifitas orang sakit, hal ini terbayangkan oleh saya yang belum pernah di rawat di Rumah Sakit.

Mungkin karena kualat atau apalah istilahnya, Tanggal 6 Maret 2007 kemarin saya mendadak sakit yang menurut perkiraan saya penyebabnya karena kecapekan setelah Hari Minggunya saya ikut membantu tukang yang sementara pasang keramik dan plester di rumah mungil kami. Tadinya saya pikir ini hanya demam biasa dan jauhlah dari Rumah Sakit tapi ternyata karena rasa sakit yang tidak tertahan lagi, Rabu 7 Maret 2007 saya ke Rumah Sakit untuk sekedar kontrol tapi ternyata hasil diagnosa Dokter menyimpulkan saya terserang gejala malaria dan harus rawat inap, saya pun pasrah. Akhirnya apa yang selama ini hanya ada dalam bayangan saya terwujud juga, di rawat di Rumah Sakit dan dijenguk banyak orang. Kesimpulannya ternyata tidak ada enaknya menjadi orang SAKIT, tidak adanya enaknya dijenguk banyak orang dalam keadaaan sakit, badan rasanya gak enak, makan apalagi, semua terasa pahit belum lagi harus merasakan makan obat dan mesti diinfus . Betul-betul menyiksa bagi saya yang for the first time " menginap " di Rumah Sakit. Jumat 8 Maret 2007 akhirnya saya diperbolehkan pulang dengan sedikit merengek ke Dokternya bahwa kondisi saya sudah pulih. Pulang ke rumah dengan tekad tidak akan kembali lagi ke Rumah Sakit dan pesan nenek-pun akan saya patri di dalam hati.
posted by Heru Hastowo @ 1:01 PM   0 comments
Sejenak tentang Earlene
Friday, March 02, 2007
Hari demi hari berlalu tanpa terasa Earlene tumbuh menjadi gadis cilik dengan segala polah tingkah yang kian menggemaskan. Satu kesyukuran tak terkira bagi saya sebagai seorang bapak melihatnya tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang cerdas di mata saya dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Ada-ada saja tingkahnya yang menggelikan sekaligus menunjukkan perkembangannya. Seperti kemarin seperti biasa setiap Shalat Maghrib kami berjamaah ( saya dan Ibunya menjelang Maghrib baru sampai di rumah ) dan sebagai Imam semestinya sayalah yang berdiri di depan tapi Earlene maunya yang di depan, jadinya saya Imam yang salah posisi, belum lagi kalau sujud maunya naik ke punggung atau kalau takhiyat kedua jari telunjuknya digoyang-goyang, kelucuan khas anak-anak!
Bulan Juli nanti Insya Allah Earlene akan memasuki "dunia baru", Sekolah atau tepatnya bermain yang ditertibkan bernama Play Group, duh, senangnya dia, mulai minta beli sepatu, baju dan perlengkapan lainnya, dia sudah belajar mengacungkan tangan bila namanya disebut tapi dengan embel-embel balik nanya : " ada apa sich ? " Wah kebayang gak kalo Ibu Gurunya manggil namanya terus dia angkat tangan sambil berujar : " ada apa sich ? " Nak, semoga kamu menjadi matahari dan bulan kecil bagi dunia yang semakin temaram ini....
posted by Heru Hastowo @ 1:55 PM   0 comments
Mari Kita Belajar Mencintai
Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat. Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka.Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai.”Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana.Rasulullah saw bersabda: “Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikan nya dalam kehidupan kita.Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.
posted by Heru Hastowo @ 1:52 PM   0 comments
Saya Adalah . . .

" Lelaki Kecil dari Kota Kecil di Sudut Kalimantan bagian Timur, Suami dan Ayah dari seorang isteri dan dua orang titipanNYA. Saya hanya manusia biasa yang berusaha menggunakan hati,pikiran dan rasa dalam meniti hidup yang semakin tidak jelas ini sehingga semua yang ada di dalam halaman ini hanyalah wujud dari berfungsinya ketiga elemen itu. "

Menu Hari Ini
Menu Lalu
Klik Juga
oggix.com : <a href=http://oggix.com> Free Shoutbox & Complete Blog Tools</a>
yang lagi liat :
page counter