.:Lelaki Kecil dari Kota Kecil:.

Segala yang kudengar, kurasa, dan kulihat ........

 

Heru Hastowo
Allahumma inni As-alukaa ridhaaka wal jannah ...
Afiliasi

Free Blogger Templates

BLOGGER

Toleransi Bahasa
Sunday, December 30, 2007
Sebelumnya, tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar fenomena real yang terjadi dalam keseharian kita.
Apa jadinya kita tanpa bahasa tutur ? dengan bahasa kita berkomunikasi dan berinteraksi, lewat bahasa kita mengetahui sesuatu yang kemudian kita sebut ilmu pengetahuan, dengan bahasa puja-puji kita ke Sang Pencipta kita sampaikan.
Kita, apa jadinya jika tidak ada bahasa Indonesia sebagai bahasa Pemersatu ? Untuk yang satu ini perlu salut dan acungan jempol kepada para pendahulu kita yang sebegitu cemerlangnya memikirkan untuk sebuah bahasa pemersatu. Dapat kita bayangkan bagaimana efektifitas komunikasi kita tanpa bahasa Indonesia ? Bagaimana orang Jawa dengan bahasa Jawanya bisa berkomunikasi dengan Orang Banjar dengan bahasa Banjar misalnya atau Orang Papua dengan Orang Bugis, yang ada mungkin penggunaan bahasa isyarat. Maka bersyukurlah kita dengan adanya bahasa Indonesia ini, dari manapun asal sukunya kita tetap dapat berkomunikasi dengan lancar karena bahasa Indoensia, tentu bahasa Indonesia dengan dialek bahasa daerah.
Ada fenomena menarik yang saya cermati dengan komunikasi keseharian kita. Karena latar belakang bahasa daerah itu tadi, terkadang kita lupa bahwa di sekeliling kita ada orang dari suku lain yang belum tentu bisa mengerti, maksud saya begini, jika ada dua atau lebih orang jawa bertemu tentu mereka akan menggunakan bahasa Jawa untu berkomunikasi meskipun mereka sadar di sekelilingnya ada orang lain yang belum tentu dapat menangkap maksudnya. Lain halnya dengan orang Bugis misalnya ( ini hanya sebuah contoh kasus ) meskipun mereka berkumpul dengan sesuku-nya tapi bila ada orang dari suku lain mereka akan menghormatinya dengan tidak menggunakan bahasa Bugis tapi dengan bahasa Indonesia. Ada seorang teman ( dari Bugis ) yang bila berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sangat kental dialek bugisnya yang khas yang bila bertemu dengan huruf akhir "N" akan berbunyi "Ng" semisal "Makan" menjadi "Makang", secara jujur dia pernah "curhat" ke saya bahwa sebenarnya dia sadar dan malu bila bertutur dalam bahasa Indonesia karena dialeknya itu hdari sononya sehingga akan sangat sulit untuk menghilangkan akhiran "Ng" di belakang kata atau kalimat tapi demi menghormati orang lain yang tidak mengerti bahasa Bugis dia rela jadi tertawaan dengan bahasa Indonesia dialek Bugisnya, di tidak ingin sepeti orang Jawa yang terkadang tidak "bertoleransi dengan bahasa", seperti seorang teman yang sepertinya menganggap semua orang adalah orang Jawa, terbukti dalam keseharian bahasa tuturnya adalah bahasa jawa meskipun dia berada dalam kerumunan suku lain.
Makanya, mari belajar bertoleransi dengan berbahasa Indonesia - terserah itu dengan dialek apa- bila bertemu dengan orang dari suku lain.
posted by Heru Hastowo @ 9:57 AM   0 comments
Aku harus meninggalkanmu malam ini
Entah menembus malam entah membelah sunyi
Entah menyambut matahari entah menjemput bulan yang hadir separuh
Maafkan aku sayang,
Jika malam ini harus menanggalkan selimut yang balut tubuh kita,
Entah aku sanggup menantang malam dingin
Entah aku bisa mengayun langkah yangbergayut bayanganmu
Jangan salahkan aku sayang,
Jika malam ini aku sudahi lagu nina bobo yang baru sepenggal
Entah dapat menidurkanmu sebelum aku pergi
Entah membuatmu terjaga setelah aku berlalu
Jangan tanya seberapa berat akumeningalkanmu,
Jika dapat memilih aku tidak akan pergi
Pun perjalanan berpayung awan
Biarlah aku pergi agar kita tetap dapat merasakan bahwa hidup ini juga milik kita
agar mereka yang dititipkan pada kita dapat berdiri tegak dengan dadanya sendiri
agar senyum di bibirnya tetap merekah
meskipun kerak kerap kali melukainya.

Muara Jawa, 18 November 2007
posted by Heru Hastowo @ 9:03 AM   0 comments
Goresan Angin
Berapa lama kau pernah di sini
Menemani setiap goresan tangan yang tertoreh
Sampai angin datang membuyarkan
Menerbangkan tiap kelopak yang kita rangkai menjadi sekuntum luka
Akulah lelaki yang menangis semalam
sampai riakan embun tidak juga membasahi
Suatu saat di terik siraman hujan kita berdiri menengadah
menghitung langkah surut di tepi langit
Kau bertanya sampai di mana jejak ini akan menanda
Hingga akhirnya angin benar benar menerbangkan kita ke utara dan selatan
Dimanakah titik temu itu ? Dalam hiasan tidur kataku ...
Dan kupatri namamu tanpa tinta tanpa goresan ……
Aku pergi dan kaupun berlalu

Muara Jawa, 21 Nopember 2007
posted by Heru Hastowo @ 8:52 AM   0 comments
Saya Adalah . . .

" Lelaki Kecil dari Kota Kecil di Sudut Kalimantan bagian Timur, Suami dan Ayah dari seorang isteri dan dua orang titipanNYA. Saya hanya manusia biasa yang berusaha menggunakan hati,pikiran dan rasa dalam meniti hidup yang semakin tidak jelas ini sehingga semua yang ada di dalam halaman ini hanyalah wujud dari berfungsinya ketiga elemen itu. "

Menu Hari Ini
Menu Lalu
Klik Juga
oggix.com : <a href=http://oggix.com> Free Shoutbox & Complete Blog Tools</a>
yang lagi liat :
page counter